Cerpen Fiksi Keluarga : Bunga di Hari yang Lama Dinanti

🌸🌺🌷🌼
✦ Cerpen Keluarga ✦

Bunga di Hari
yang Lama Dinanti

Tentang air mata yang bukan kesedihan,
doa yang akhirnya dijawab, dan cinta
yang tak pernah meminta balasan.

πŸŽ“ Genre: Keluarga · Drama🌸 ~10 menit membacaπŸ’œ Untuk Ibu di mana pun
BACA
I — Pagi Sebelum Segalanya

Pagi itu Ibu bangun jam empat, jauh sebelum adzan Subuh menyapa.

Bukan karena tidak bisa tidur — tapi karena ada yang ingin beliau lakukan sebelum siapapun di rumah terbangun. Beliau mengambil mukena usang bermotif bunga kecil, mukena yang sama sejak dua puluh tahun lalu, dan bersujud dalam gelap.

Di dalam doa itu, satu nama selalu disebut paling lama.

Nazwa.

Anak bungsunya. Yang hari ini akan memakai toga.

Ibu — berbisik dalam sajadah
"Ya Allah, cukupkan rezekiku untuk melihat anakku wisuda. Itu saja. Satu itu saja."

Doa itu dipanjatkan berulang kali — sejak Nazwa masuk semester tiga, sejak uang tabungan mulai menipis, sejak bapaknya meninggal di semester lima dan semua orang bilang mungkin kuliah harus berhenti.

Tapi Nazwa tidak berhenti. Dan hari ini, doa itu dijawab.

✦ ✦ ✦
II — Riasan dan Ingatan

Kakaknya, Rara, datang dari Bekasi sehari sebelumnya — naik kereta malam, membawa kado terbungkus kertas biru muda dan buket bunga yang ia pesan seminggu sebelumnya.

Pagi itu, di kamar kecil yang hanya muat satu kasur dan satu lemari, Rara meriasi adiknya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Rara
"Diem dulu, Zwa. Mascaranya mau kemana?"
Nazwa
"Aku grogi, Kak."
Rara
"Grogi kenapa? Kamu yang mau wisuda, bukan kamu yang mau sidang lagi."

Keduanya tertawa. Di sudut pintu, Ibu berdiri memandang — tidak masuk, hanya memandang. Bibir beliau bergerak pelan, mungkin doa, mungkin hanya nama anak-anaknya yang disebut satu per satu.

Rara melihat dari kaca rias. Ia berpura-pura tidak melihat air yang menggenang di sudut mata ibunya.

Ada cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia hanya bisa dilihat dari cara seorang ibu berdiri di ambang pintu — menyaksikan tanpa mau mengganggu — karena bahagia yang terlalu penuh itu kadang tidak tahu harus ke mana perginya.

— Dari sudut kamar yang sempit
III — Di Bawah Langit Kampus

Nama Nazwa dipanggil. Ia melangkah ke podium dengan langkah yang ia latih berkali-kali supaya tidak gemetar. Toga hitam, hijab merah muda, buket bunga di genggaman — dan di barisan keluarga, dua perempuan yang paling ia cintai di dunia sedang saling mencengkeram tangan.

Ibu dan Rara.

Ibu yang tidak tahu cara menyebut "cum laude" tapi tahu betul berapa malam anaknya begadang. Rara yang diam-diam mengirim uang lebih setiap bulan dengan alasan "kelebihan gaji" — padahal gajinya tidak pernah benar-benar lebih.

Di bawah langit kampus yang cerah itu, tiga perempuan berdiri bersama — masing-masing menyimpan cerita berat yang tak pernah mereka ceritakan lengkap satu sama lain. Tapi hari ini, cerita itu cukup diselesaikan dengan pelukan.

Fotografer kampus menghampiri mereka. Meminta pose. Nama juga kamera kecil Ibu — kamera Android lama yang layarnya retak di sudut kanan — sudah digenggam sedan tadi pagi.

Fotografer
"Senyum ya, Bu."

Ibu tersenyum. Tapi matanya sudah basah sejak tadi. Dan anehnya, itu adalah foto paling indah yang pernah ada di galeri HP beliau.

✦ ✦ ✦
IV — Surat yang Tidak Pernah Dikirim

Malam sebelum wisuda, Nazwa menemukan selembar kertas terlipat di bawah bantalnya. Tulisan tangan Ibu — huruf-hurufnya besar dan agak miring, karena Ibu belajar baca tulis terlambat.

Nazwa sayang,


Ibu tidak pandai bicara. Kalau Ibu coba bilang pakai mulut, pasti Ibu malah nangis duluan dan kamu malah yang jadi nguatin Ibu. Jadi Ibu tulis saja.


Ibu bangga. Sangat bangga. Bukan karena toga atau gelar atau nilai. Tapi karena Ibu tahu betapa beratnya jalanmu. Ibu tahu kamu makan seadanya. Ibu tahu kamu sering bilang "aku baik-baik aja" padahal suara kamu di telepon bilang yang lain.


Kamu tidak berhenti. Itu yang paling Ibu kagumi.


Besok, waktu namamu dipanggil, Ibu akan tepuk tangan paling keras. Mungkin Ibu juga akan nangis. Maafkan Ibu ya.


Dari Ibu yang selalu mendoakanmu,
bahkan waktu kamu sedang tidur.

Nazwa membaca surat itu tiga kali. Lalu ia pergi ke kamar Ibu dan memeluk beliau dari belakang tanpa berkata apa-apa.

Mereka berdua menangis dalam diam.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

✦ ✦ ✦
V — Makan Siang dan Makna Kehidupan

Setelah acara selesai, mereka bertiga duduk di warung pinggir jalan — bukan restoran mewah, bukan kafe estetik. Warung nasi dengan meja plastik dan kipas angin yang bunyi "cetak-cetak" tidak berhenti.

Nazwa ingin mengajak makan di restoran. Ibu menolak.

Ibu
"Nggak usah yang mahal-mahal. Di sini enak. Ibu suka sambalnya."

Padahal Nazwa tahu — Ibu yang memilihkan tempat itu karena beliau tahu berapa yang tersisa di dompet Rara. Selalu begitu Ibu. Selalu memikirkan orang lain bahkan di hari yang seharusnya hanya menjadi miliknya sendiri.

Mereka makan dengan lahap. Toga Nazwa masih tergantung di kursi. Buket bunga diletakkan di lantai. Sesekali lewat orang-orang yang melihat dengan senyum — mungkin menebak-nebak cerita mereka bertiga.

Rara mengambil foto makanan, lalu foto Ibu yang sedang meniup nasi supaya tidak panas.

Rara
"Bu, jangan nyium piring dong kalau mau foto."
Ibu
(tawa kecil) "Biarin. Siapa yang mau lihat?"
Rara
"Aku mau lihat, Bu. Buat kenang-kenangan."

Ibu diam sebentar. Lalu beliau melihat ke dua anaknya bergantian — Rara dengan kacamatanya, Nazwa dengan lipstik yang mulai pudar — dan untuk pertama kalinya hari itu, beliau tersenyum tanpa air mata.

Makna kehidupan tidak selalu tersembunyi di balik kata-kata bijak atau buku tebal. Kadang ia datang dalam bentuk semangkuk sayur asem, kipas angin yang bunyi cetak-cetak, dan tiga perempuan yang tertawa bersama di warung pinggir jalan — karena perjalanan panjang mereka akhirnya sampai juga.

— Di warung nasi dengan meja plastik
VI — Nilai yang Sesungguhnya

Di perjalanan pulang, Nazwa duduk di kursi belakang angkutan bersama Ibu. Rara duduk di depan, sambil sesekali melihat ke belakang lewat cermin.

Nazwa menyandarkan kepalanya di bahu Ibu. Beliau tidak bergerak, tidak menggeser — hanya menerima, seperti yang selalu beliau lakukan.

Dalam keheningan itu, Nazwa berpikir soal nilai — bukan IPK-nya yang hampir sempurna, bukan pujian dosen pembimbing, bukan foto wisuda yang akan ramai diberi "like".

Nilai yang sesungguhnya adalah ini:

Ibu yang bangun jam empat demi berdoa untuknya. Kak Rara yang mengorbankan liburan demi membeli buket bunga. Dan dua tangan yang selalu ada — bahkan di malam-malam paling gelap di rantau, bahkan ketika Nazwa tidak tahu bagaimana caranya terus berjalan.

Ia tidak cum laude karena ia pintar. Ia cum laude karena ia tidak sendirian.

✦ ✦ ✦
VII — Setelah Bunga Layu

Seminggu kemudian, buket bunga itu sudah layu. Kelopaknya mulai gugur satu per satu di atas meja. Rara sudah kembali ke Bekasi. Toga sudah terlipat rapi di dalam plastik.

Tapi satu hal tidak pernah layu.

Mukena usang bermotif bunga kecil itu masih dipakai Ibu setiap malam. Dan dalam doanya yang tidak pernah berhenti, nama Nazwa masih selalu disebut — kali ini bukan meminta, tapi bersyukur.

Nazwa — pesan WhatsApp ke Ibu
"Bu, makasih udah mau bangga sama aku. Aku sayang Ibu."
Ibu — balasan 20 menit kemudian
"Sama ibu juga sayang. Makan yang banyak ya nak jangan lupa solat."

Nazwa tertawa membaca balasan itu. Selalu begitu Ibu. Rasa sayang yang sebesar langit, diucapkan dalam kalimat yang paling sederhana.

Dan mungkin memang begitulah seharusnya cinta — tidak harus megah, tidak harus sempurna, cukup hadir, cukup nyata, cukup hangat seperti tangan yang selalu siap menerima.

❦ ❦ ❦
— Tamat —
Untuk semua ibu yang doanya lebih panjang dari tidurnya

"Wisuda bukan tentang akhir. Ia adalah tentang semua orang
yang membantu kamu tetap berjalan sampai di sini."

#Wisuda#CerpenKeluarga#IbuDanAnak#PerjuanganKeluarga#NilaiKehidupan#CintaTanpaSyarat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Selamat Ulang Tahun, Lahir September

Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?