Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?
# Generasi Emas atau Generasi Chaos?
Suasana kafe yang instagramable di bilangan Kemang ramai dengan suara keyboard laptop dan ocehan anak-anak muda. Di sudut dekat jendela, bertemulah empat sahabat yang sudah akrab sejak kuliah: Zaki, seorang startup founder yang religius tapi gaul; Maya, content creator yang kritis dan bijak; Raka, data analyst yang suka ngomong frontal; dan Dinda, aktivis sosial yang idealis tapi realistis.
"Gue baru baca artikel tentang bonus demografi Indonesia. Katanya kita lagi di masa emas, tapi kok rasanya kayak lagi di masa chaos ya?" Maya membuka pembicaraan sambil menyeruput matcha latte-nya.
Zaki yang sedang mengetik di laptop MacBook-nya ikut nimbrung. "Subhanallah, Maya. Lo tahu nggak sih, Indonesia punya 70% populasi usia produktif. Itu artinya kita harusnya jadi negara yang kuat banget ekonominya."
"Keyword-nya 'harusnya', bro," sahut Raka sambil menunjukkan grafik di iPadnya. "Tapi realitanya gimana? Pengangguran terdidik masih tinggi, skill gap antara lulusan sama kebutuhan industri masih lebar banget."
Dinda yang tadi fokus scrolling LinkedIn ikut masuk. "Raka bener sih. Gue kemarin workshop di kampung-kampung, banyak anak muda yang punya potensi tapi nggak tau mau dibawa kemana. Mereka stuck antara tradisi lama dan tuntutan zaman modern."
"Nah itu dia pointnya," kata Zaki sambil menutup laptopnya. "Kita kan generasi yang unik banget. Kita hidup di era dimana orang tua kita masih mindset konvensional, tapi kita udah harus compete di era digital. Kita harus jadi bridge antara dua dunia."
Maya manggut-manggut. "Bener banget. Gue sebagai content creator ngerasain banget ini. Audience gue ada yang boomers, ada yang gen Z. Cara ngomong ke mereka harus beda-beda. Yang boomers mau konten yang mendalam, yang gen Z maunya yang bite-sized, visual, dan langsung to the point."
"Makanya gue bilang, bonus demografi ini bisa jadi berkah atau bisa jadi bencana," lanjut Raka. "Berkah kalau kita bisa harness potensi generasi muda ini dengan benar. Bencana kalau kita cuma jadi generasi yang konsumtif, nggak produktif."
Dinda nyeletuk, "Raka, lo pernah nggak liat fenomena di medsos? Anak-anak muda sekarang lebih excited beli skincare Korea daripada invest di skill development. Lebih semangat hunting produk viral daripada hunting knowledge."
"Wah, Dinda savage banget nih," Zaki ketawa. "Tapi ada benernya juga. Gue notice di lingkungan startup, banyak anak muda yang pengen jadi entrepreneur tapi nggak mau starting from the bottom. Pengen langsung unicorn, nggak mau fase struggling."
Maya ikut tertawa. "Iya, gue juga sering dapet DM, 'Kak, gimana caranya cepet viral?' 'Kak, gimana caranya dapet 100k followers dalam sebulan?' Jarang yang tanya, 'Kak, gimana caranya bikin konten yang bermanfaat?'"
"Nah, ini yang gue sebut sebagai 'instant gratification syndrome'," kata Raka sambil mengudara-udara tangannya. "Generasi sekarang terlalu terbiasa dengan hal-hal yang instan. Mau makan, ada ojol. Mau hiburan, ada Netflix. Mau ilmu, ada YouTube. Tapi untuk skill yang deep, yang butuh waktu bertahun-tahun, itu yang susah."
Zaki manggut serius. "Wallahu a'lam, tapi gue rasa ini juga test dari Allah. Kita dikasih kemudahan teknologi, sekarang tinggal gimana kita gunakan teknologi itu untuk kebaikan. Apakah kita gunakan untuk hal-hal yang meaningful atau cuma untuk pamer dan konsumsi?"
"Zaki, lo sebagai startup founder, pasti ngerasain banget kan gap antara ekspektasi dan realita talent Indonesia?" tanya Dinda.
"Banget! Gue hiring fresh graduate, mereka CV-nya wow banget. Tapi pas interview, basic problem solving masih lemah. Mereka lebih jago ngapalin teori daripada apply teori ke real case."
Maya nambahi, "Ini karena sistem pendidikan kita masih teacher-centered, bukan student-centered. Anak-anak masih dibiasakan jadi passive learner, bukan active learner. Padahal di era sekarang, yang dibutuhin adalah critical thinking dan creativity."
"Exactly!" seru Raka. "Makanya gue bilang, bonus demografi ini bisa jadi demographic disaster kalau kita nggak fix masalah fundamental ini. Bayangin aja, 70% populasi produktif tapi skillnya nggak match sama kebutuhan industri. Jadinya apa? Pengangguran massal."
Dinda menggeleng-geleng. "Sedih sih sebenernya. Gue pernah ke daerah terpencil, anak-anak muda di sana potensinya luar biasa. Tapi akses ke education yang berkualitas masih terbatas. Sementara anak-anak di kota besar, aksesnya unlimited tapi malah banyak yang mager."
"Nah, ini yang ironis," kata Zaki. "Yang punya akses malah wasteful, yang nggak punya akses malah hungry for knowledge. Subhanallah, Allah emang adil. Tinggal kita sebagai generasi yang aware harus gimana nge-bridge gap ini."
Maya tiba-tiba excited. "Guys, gue punya ide nih. Gimana kalau kita bikin gerakan? Nama gerakannya 'Bonus Demografi Real Action'. Kita ajak anak-anak muda untuk nggak cuma jadi konsumen, tapi jadi producer."
"Maksudnya gimana?" tanya Raka.
"Jadi gini, kita bikin platform dimana anak-anak muda bisa share skill mereka ke yang lain. Yang jago coding ngajarin yang belum bisa, yang jago design ngajarin yang lain, yang jago marketing ngajarin yang butuh. Peer to peer learning gitu."
Zaki matanya berbinar. "Brilliant! Ini konsep yang sustainable. Kita leverage kekuatan komunitas untuk saling empowering. Plus, ini sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang saling membantu sesama."
"Gue suka konsepnya," kata Dinda. "Tapi implementasinya gimana? Kita harus bikin sistem yang engaging buat gen Z tapi juga meaningful."
Raka yang udah mulai sibuk mengetik di iPadnya bilang, "Gue udah mulai bikin draft business model-nya. Kita bisa bikin point system, leaderboard, achievement badges. Basically gamification untuk learning."
"Tapi jangan lupa," tambah Maya, "kita harus pastiin kontennya berkualitas. Jangan sampai jadi echo chamber dimana yang ngajarin juga sebenernya belum expert."
"Nah itu, makanya kita butuh mentor system," kata Zaki. "Kita ajak para senior yang udah proven di bidangnya masing-masing untuk jadi guidance. Jadi ada quality control."
Dinda antusias. "Gue bisa handle community outreach-nya. Gue punya jaringan ke daerah-daerah yang masih underserved. Kita bisa mulai dari sana."
"Perfect! Ini dia yang gue sebut sebagai 'memanfaatkan bonus demografi dengan bijak'," kata Raka. "Kita nggak cuma complain tentang masalah generasi sekarang, tapi kita provide solution."
Maya manggut-manggut. "Gue juga bakal bikin konten campaign-nya. Kita harus bikin messaging yang relatable buat anak muda. Jangan terlalu preachy, tapi harus impactful."
"Guys, gue ngerasa ini momentum yang tepat banget," kata Zaki dengan penuh semangat. "Kita hidup di era dimana akses informasi unlimited, teknologi memungkinkan kita untuk connect dengan siapa aja, kapan aja. Tinggal kita mau memanfaatkannya untuk kebaikan atau nggak."
"Setuju banget," sahut Dinda. "Dan yang paling penting, kita harus ingat bahwa bonus demografi ini nggak akan selamanya. Jendela peluangnya terbatas. Setelah 2030, struktur populasi kita akan berubah."
Raka mengangguk. "Exactly. Kita punya waktu sekitar 5-10 tahun untuk really maximize potensi ini. Setelah itu, kita akan masuk ke fase aging population seperti Jepang dan Korea."
"Makanya gue bilang, ini adalah defining moment buat generasi kita," kata Maya. "Apakah kita akan dikenang sebagai generasi yang berhasil mengubah Indonesia jadi negara maju, atau generasi yang menyia-nyiakan peluang emas?"
Zaki mengangkat gelas kopinya. "Basmallah, guys. Mari kita jadikan diri kita sebagai generasi yang nggak cuma talk, tapi juga walk the talk. Kita mulai dari diri kita sendiri, trus kita spread positive impact ke yang lain."
"Cheers to that!" sahut Maya sambil mengangkat matcha latte-nya.
"Alright, let's do this!" kata Raka dan Dinda hampir bersamaan.
"Oh iya, satu lagi," tambah Zaki. "Kita harus selalu ingat untuk stay humble dan grateful. Allah udah kasih kita generasi yang luar biasa ini. Jangan sampai kita jadi sombong dan lupa daratan."
"Bener banget," kata Dinda. "Kita harus balance antara confidence dan humility. Confident dalam bertindak, humble dalam bersikap."
Maya nambahi, "Dan yang paling penting, kita harus authentic. Jangan jadi generasi yang fake it till you make it. Jadilah generasi yang real, yang punya substance."
"Amen to that," kata Raka. "Kita harus jadi generasi yang smart, tapi juga wise. Yang tech-savvy, tapi juga value-driven."
Zaki menutup diskusi mereka. "Alhamdulillah, gue grateful banget bisa punya teman-teman yang berpikir seperti kalian. Ini adalah awal dari sesuatu yang besar. Kita nggak cuma jadi saksi sejarah, tapi kita jadi pembuat sejarah."
"Bismillah, let's make Indonesia proud!" seru mereka berempat kompak.
Saat itu, mereka belum tahu bahwa percakapan di kafe kecil itu akan menjadi cikal bakal gerakan yang mengubah cara pandang generasi muda Indonesia terhadap bonus demografi. Mereka membuktikan bahwa generasi milenial dan gen Z Indonesia bukan hanya pandai berkicau di media sosial, tapi juga mampu mengubah kicauan menjadi aksi nyata.
Enam bulan kemudian, gerakan "Bonus Demografi Real Action" yang mereka rintis sudah tersebar ke 50 kota di Indonesia, melibatkan ribuan anak muda, dan berhasil menciptakan ekosistem pembelajaran peer-to-peer yang mengubah mindset generasi muda dari konsumtif menjadi produktif.
Itulah kekuatan sejati bonus demografi Indonesia: bukan hanya soal jumlah, tapi soal kualitas pemikiran dan aksi nyata generasi yang sadar akan tanggung jawab sejarahnya. #cerpen #viral #value #zamannow #demografi #bonus #genz
Komentar
Posting Komentar