Analisis Strategi IPOI/MPKD dalam Pendidikan PAUD/TPA di Kabupaten Bandung dengan Standar PISA

Analisis Strategi IPOI/MPKD dalam Pendidikan PAUD/TPA di Kabupaten Bandung dengan Standar Pembelajaran Metode PISA                                                    
Penulis : Wulan Sari Dewi 1, Tati Maryati 2, Mochamad Nursam 3. 
1. Alumi FEB UNIBI Bandung; 2. Guru TPA/TPQ DKM Baiturrahman Sukapura Dayeuhkolot, Bandung, Jawa Barat, Indonesia; 3. Pengamat Pendidikan Usia Dini, Bandung, Jawa Barat, Nusantara.                                                                                  Korespondensi : tmariati373@gmail.com, 62 821-2738-6059, samsejati257@gmail.com                                                                                                       Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi strategi Input–Proses–Output–Impact / Masukan–Proses–Keluaran–Dampak (IPOI/MPKD) dalam sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) dan tempat penitipan anak (TPA) di Kabupaten Bandung, serta mengkaji keselarasannya dengan standar Programme for International Student Assessment (PISA) yang diadaptasi untuk jenjang prasekolah. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui studi dokumentasi kebijakan daerah tahun 2025, observasi lapangan di 12 lembaga PAUD/TPA, dan wawancara dengan 24 guru serta 8 pengelola lembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Kabupaten Bandung telah menerapkan kebijakan wajib belajar 13 tahun (1 tahun prasekolah) dan menyelenggarakan berbagai bimbingan teknis inovatif, penerapan pendekatan IPOI/MPKD masih bersifat parsial. Integrasi dengan standar PISA—yang mencakup literasi, numerasi, regulasi diri, empati, dan kepercayaan—menghadapi tantangan signifikan, seperti kapasitas guru yang belum merata, keterbatasan sarana digital, dan belum adanya asesmen baku yang sesuai konteks lokal. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas pendidik, pengembangan sistem pemantauan terpadu, serta perumusan standar penilaian berbasis kearifan lokal yang tetap mengacu pada kerangka internasional.

Kata kunci: IPOI/MPKD, PAUD, TPA, Kabupaten Bandung, PISA, pendidikan anak usia dini


Abstract

This study aims to analyze the implementation of the Input–Process–Output–Impact (IPOI) / Masukan–Proses–Keluaran–Dampak (MPKD) strategy in the early childhood education (PAUD) and daycare (TPA) system in Bandung Regency, as well as to examine its alignment with the Programme for International Student Assessment (PISA) standards adapted for the preschool level. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through a review of regional policy documents from 2025, field observations in 12 PAUD/TPA institutions, and interviews with 24 teachers and 8 institution managers. The findings indicate that although Bandung Regency has implemented the 13-year compulsory education policy (including 1 year of preschool) and organized various innovative technical trainings, the application of the IPOI/MPKD approach remains partial. Integration with PISA standards—which encompass literacy, numeracy, self-regulation, empathy, and trust—faces significant challenges, such as uneven teacher capacity, limited digital facilities, and the absence of standardized assessments tailored to the local context. This study recommends strengthening educator capacity, developing an integrated monitoring system, and formulating assessment standards based on local wisdom while still referring to the international framework.

Keywords  
IPOI/MPKD, Early Childhood Education, Daycare, Bandung Regency, PISA, preschool education

PENDAHULUAN

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Masa emas perkembangan anak (golden age) yang berlangsung hingga usia enam tahun menjadi periode kritis untuk menstimulasi aspek kognitif, sosial-emosional, dan fisik-motorik anak (Kemendikbudristek, 2022). Kabupaten Bandung, sebagai salah satu daerah dengan jumlah lembaga PAUD terbanyak di Jawa Barat, menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan akses dan mutu pendidikan prasekolah. Angka Partisipasi Sekolah (APS) PAUD Kabupaten Bandung masih berada pada angka 61,41 poin, jauh dari target universal partisipasi yang diharapkan. Di sisi lain, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) secara konsisten menunjukkan bahwa kompetensi literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional, yang mengindikasikan perlunya penguatan fondasi pendidikan sejak dini.

Strategi Input–Proses–Output–Impact / Masukan–Proses–Keluaran–Dampak (selanjutnya disebut IPOI/MPKD) merupakan kerangka sistemik yang memandang keberhasilan pendidikan tidak hanya dari output langsung, tetapi juga dari kualitas input, efisiensi proses, dan dampak jangka panjang terhadap masyarakat. Kerangka ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang menekankan pada pemberdayaan satuan pendidikan untuk melakukan transformasi secara holistik.

Penelitian ini penting karena mengisi kesenjangan literatur tentang bagaimana kerangka IPOI/MPKD dapat diimplementasikan secara terstruktur di tingkat PAUD/TPA dan bagaimana kontribusinya terhadap pencapaian standar global seperti PISA. Kabupaten Bandung dipilih sebagai lokus penelitian karena dinamika kebijakannya yang progresif, termasuk peluncuran program wajib belajar 1 tahun prasekolah, bimbingan teknis pembelajaran abad ke-21, serta inovasi digital di TPA.

Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Bagaimana implementasi strategi IPOI/MPKD dalam sistem pendidikan PAUD/TPA di Kabupaten Bandung? (2) Sejauh mana implementasi tersebut memenuhi standar PISA yang diadaptasi untuk PAUD? (3) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam proses implementasi?



TINJAUAN PUSTAKA

Konsep IPOI/MPKD dalam Sistem Pendidikan

IPOI/MPKD merupakan akronim dari Input, Process, Output, Impact / Masukan, Proses, Keluaran, Dampak. Kerangka ini pertama kali diadaptasi dari paradigma sistem dalam ilmu komputer dan rekayasa perangkat lunak, kemudian dikembangkan untuk menganalisis organisasi satuan pendidikan. Dalam konteks PAUD, komponen input mencakup kualifikasi guru, sarana prasarana, kurikulum, dan dukungan orang tua. Komponen proses meliputi metode pembelajaran, manajemen kelas, dan interaksi edukatif. Output diukur melalui capaian perkembangan anak (kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional). Sementara itu, impact mengacu pada dampak jangka panjang terhadap keberhasilan anak di jenjang pendidikan selanjutnya dan kehidupannya di masyarakat.

Pendekatan IPOI/MPKD bersifat siklik dan berkelanjutan, memungkinkan evaluasi dan perbaikan sistem secara terus-menerus. Hal ini relevan dengan prinsip quality assurance dalam pendidikan yang menekankan pada peningkatan berkelanjutan.

Standar PISA untuk Pendidikan Anak Usia Dini

PISA yang diselenggarakan oleh OECD secara resmi menilai siswa usia 15 tahun dalam tiga domain utama: literasi membaca, literasi matematika, dan literasi sains. Namun, sejak tahun 2016, OECD meluncurkan International Early Learning Study (IELS), yang sering disebut sebagai "PISA untuk anak usia dini". IELS menilai anak usia 5 tahun pada empat dimensi: literasi (kemampuan memahami simbol dan makna), aritmetika (konsep bilangan dan pola), regulasi diri (kemampuan mengendalikan perilaku dan emosi), serta empati dan kepercayaan (kemampuan memahami perasaan orang lain dan membangun relasi sosial).

Meskipun IELS memberikan kerangka acuan internasional yang berguna, para ahli mengkritiknya karena kurang peka terhadap keragaman budaya lokal dan terlalu mengandalkan pendekatan kuantitatif yang kaku. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, standar PISA tidak diterapkan secara literal, tetapi diadaptasi dengan mempertimbangkan konteks budaya Sunda dan kearifan lokal Kabupaten Bandung.

Kebijakan PAUD di Kabupaten Bandung

Kabupaten Bandung memiliki sekitar 1.980 lembaga PAUD, namun masih terdapat sejumlah lembaga yang belum memiliki izin operasional. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan (Disdik) telah mengeluarkan berbagai kebijakan strategis:

Pertama, Wajib Belajar 13 Tahun (2025), yang mewajibkan 1 tahun prasekolah bagi anak usia 5–6 tahun, sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2025–2029 dan diintegrasikan dengan program Bupati Bandung.
Kedua, Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Guru, yang mencakup literasi digital, koding dasar, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), penyusunan RPP efektif berbasis deep learning, serta pendidikan gizi dan karakter.
Ketiga, Program Pendidikan Perubahan Iklim (2025), yang mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kurikulum PAUD di tiga kecamatan (Ibun, Rancaekek, Baleendah).
Keempat, Sistem Monitoring Digital LEARNWITHFIRDAUS di TPA Duta Firdaus, yang memungkinkan pelaporan perkembangan anak secara real-time kepada orang tua.


METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Lokasi penelitian ditentukan secara purposif di 12 lembaga PAUD/TPA yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Bandung (Dayeuhkolot, Baleendah, Rancaekek, Soreang, Cileunyi, dan Majalaya). Pemilihan kecamatan didasarkan pada variasi karakteristik wilayah (perkotaan, pinggiran, dan perdesaan) serta partisipasi dalam program inovatif.

Data dikumpulkan melalui:

1. Studi dokumentasi terhadap 10 dokumen kebijakan daerah dan pusat (Perbup, SK Kadisdik, modul bimtek).
2. Observasi partisipatif selama 12 hari (total 96 jam observasi) dengan fokus pada interaksi pembelajaran, penggunaan media, dan praktik asesmen.
3. Wawancara semi-terstruktur dengan 24 guru PAUD/TPA dan 8 kepala lembaga.
4. Fokus grup diskusi (FGD) bersama 15 pengurus Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Kabupaten Bandung.

Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Implementasi IPOI/MPKD dalam Pendidikan PAUD/TPA di Kabupaten Bandung

Komponen Input

Dari sisi input, penelitian menemukan bahwa Kabupaten Bandung telah melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas. Beberapa temuan penting:

Pertama, Kualifikasi Guru: Dari 24 guru yang diwawancarai, 18 orang (75%) memiliki latar belakang pendidikan minimal D4/S1, namun hanya 12 orang (50%) yang memiliki sertifikasi pendidik PAUD. Disdik telah merancang kebijakan beasiswa S1 bagi guru PAUD yang belum memenuhi kualifikasi.
Kedua, Sarana dan Prasarana: Tiga dari 12 lembaga yang diamati memiliki ruang kelas yang layak dengan standar pencahayaan dan ventilasi yang baik, namun 9 lembaga lainnya masih menggunakan ruang seadanya (rumah warga atau bangunan semipermanen). Ketersediaan alat permainan edukatif (APE) cukup baik di lembaga perkotaan (≥ 10 jenis APE), tetapi minim di lembaga perdesaan (≤ 4 jenis APE).
Ketiga, Dukungan Orang Tua: Tingkat keterlibatan orang tua masih rendah, terutama di wilayah perdesaan dengan tingkat ekonomi rendah. Rata-rata kehadiran orang tua dalam kegiatan parenting hanya mencapai 35%.

Temuan ini sejalan dengan studi Umari & Wahyuni (2022) yang melaporkan bahwa pendampingan pembelajaran daring di Kabupaten Bandung menghadapi kendala partisipasi orang tua dan keterbatasan perangkat digital.

Komponen Proses

Dalam aspek proses pembelajaran, ditemukan variasi yang signifikan antar lembaga:

1. Pendekatan Pembelajaran: Sebanyak 8 lembaga (67%) telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan bermain sambil belajar (learning through play). Namun, implementasi deep learning yang disosialisasikan dalam Bimtek Disdik masih belum optimal karena guru kesulitan merancang aktivitas yang memicu keterampilan berpikir kritis pada anak usia dini.
2. Pemanfaatan Teknologi: Hanya 3 lembaga (25%) yang menggunakan perangkat digital dalam pembelajaran. Keberhasilan implementasi sistem monitoring digital di TPA Duta Firdaus menjadi contoh baik yang perlu direplikasi. Sembilan lembaga lainnya masih menggunakan pencatatan manual, yang sering menimbulkan keterlambatan informasi bagi orang tua.
3. Integrasi Muatan Lokal: Lembaga yang berlokasi di Kecamatan Ibun, Rancaekek, dan Baleendah telah mulai mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim ke dalam kegiatan bermain (misalnya: memilah sampah, menghemat energi, menanam pohon). Namun, integrasi ini belum merata di kecamatan lain.

Komponen Output

Output pembelajaran diukur berdasarkan capaian perkembangan anak pada aspek nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, serta sosial-emosional. Berdasarkan portofolio perkembangan yang dikumpulkan lembaga:

Pertama, Literasi dini: Rata-rata anak mampu mengenal 15–20 huruf dan 10–15 kata sederhana. Namun, kemampuan memahami makna cerita masih rendah (hanya 40% anak mampu menjawab pertanyaan sederhana tentang isi cerita).
Kedua, Numerasi dini: Rata-rata anak mampu menghitung 1–20, membilang benda 1–10, dan mengelompokkan benda berdasarkan warna/bentuk. Kemampuan membandingkan ukuran (besar-kecil, panjang-pendek) sudah dikuasai 70% anak.
Ketiga, Regulasi diri: Hanya 35% anak yang mampu mengendalikan emosi saat menunggu giliran atau saat kecewa. Sebagian besar anak masih sering menunjukkan perilaku impulsif.
Keempat, Empati dan kepercayaan: Skor rata-rata cukup baik (65% anak mampu berbagi mainan dan menghibur teman yang sedih), namun kepercayaan terhadap orang dewasa di luar keluarga masih rendah.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa capaian output PAUD di Kabupaten Bandung belum optimal, terutama dalam aspek regulasi diri yang menjadi fondasi penting bagi keberhasilan akademik di jenjang berikutnya.

Komponen Impact

Dampak jangka panjang dari pendidikan PAUD di Kabupaten Bandung belum dapat diukur secara komprehensif karena data longitudinal tidak tersedia. Namun, berdasarkan wawancara dengan 5 guru SD yang menerima lulusan PAUD dari lembaga sampel:

1. Transisi ke SD: 80% lulusan PAUD menunjukkan kesiapan yang baik dalam mengikuti pembelajaran di SD, terutama dalam hal kedisiplinan dan kemampuan mengikuti instruksi.
2. Kemampuan akademik: Lulusan PAUD yang berasal dari lembaga dengan fasilitas memadai dan guru berkualitas menunjukkan kemampuan membaca dan berhitung yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak mengikuti PAUD.
3. Keterlibatan orang tua: Dampak tidak langsung yang positif adalah meningkatnya kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan anak, meskipun tingkat partisipasi mereka dalam kegiatan sekolah masih perlu ditingkatkan.

Secara keseluruhan, implementasi IPOI/MPKD di PAUD/TPA Kabupaten Bandung masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara sistemik. Komponen input dan proses masih mendominasi perhatian kebijakan, sementara output dan impact belum menjadi fokus evaluasi yang terukur.

Kesesuaian dengan Standar PISA (IELS)

Untuk menilai kesesuaian dengan standar PISA, penelitian ini membandingkan praktik di lapangan dengan empat dimensi IELS: literasi, aritmetika, regulasi diri, serta empati dan kepercayaan.

Dimensi PISA (IELS) Capaian di Kabupaten Bandung Kesenjangan
Literasi Anak mampu mengenal huruf dan kata sederhana, namun pemahaman makna masih rendah. Belum ada asesmen baku untuk literasi dini. Kegiatan literasi masih bersifat hafalan, bukan pemahaman.
Aritmetika Anak mampu menghitung dan membilang, namun kemampuan berpikir logis (pola, klasifikasi, seriasi) masih lemah. Kurangnya APE yang merangsang berpikir logis-matematis.
Regulasi diri Capaian rendah (35% anak mampu mengendalikan emosi). Belum ada program khusus untuk pengendalian diri. Guru kurang terlatih dalam manajemen perilaku anak.
Empati & kepercayaan Cukup baik (65%), namun kepercayaan pada orang dewasa di luar keluarga rendah. Perlu penguatan program parenting dan konsistensi pengasuhan antara sekolah dan rumah.

Temuan ini mengonfirmasi bahwa masih terdapat kesenjangan signifikan antara praktik PAUD di Kabupaten Bandung dengan standar PISA, terutama pada dimensi regulasi diri dan pemahaman literasi yang mendalam. Hal ini sejalan dengan kritik para ahli bahwa IELS cenderung mengabaikan konteks budaya lokal. Namun, alih-alih menolak standar internasional, penelitian ini justru merekomendasikan adaptasi kreatif dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Sunda (misalnya: silih asih, silih asah, silih asuh).

Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor Pendukung

1. Komitmen politik yang kuat, ditunjukkan dengan kebijakan wajib belajar 13 tahun dan pemberian beasiswa S1 bagi guru PAUD.
2. Inovasi digital, seperti sistem monitoring LEARNWITHFIRDAUS yang berhasil meningkatkan transparansi dan kepercayaan orang tua.
3. Kolaborasi multipihak, termasuk IGRA, LPBINU, Save the Children, dan perguruan tinggi (Tel-U, UIN SGD Bandung).
4. Apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kepada Bunda PAUD Kabupaten Bandung atas keberhasilan peningkatan partisipasi dan mutu layanan.

Faktor Penghambat

1. Kapasitas guru yang belum merata, terutama dalam hal pedagogi modern, pemanfaatan teknologi, dan asesmen perkembangan anak.
2. Keterbatasan sarana digital di wilayah perdesaan, termasuk akses internet dan perangkat keras.
3. Belum adanya sistem pemantauan terpadu yang mengintegrasikan data input, proses, output, dan impact secara real-time.
4. Rendahnya partisipasi orang tua, terutama di keluarga dengan tingkat ekonomi rendah dan tingkat pendidikan orang tua yang terbatas.
5. Lemahnya koordinasi vertikal antara PAUD dan SD, sehingga transisi anak belum berjalan mulus meskipun sudah ada gerakan transisi PAUD-SD yang menyenangkan.


SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi strategi IPOI/MPKD dalam pendidikan PAUD/TPA di Kabupaten Bandung masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara sistemik. Meskipun kebijakan daerah telah menunjukkan komitmen yang kuat melalui wajib belajar 13 tahun, bimbingan teknis inovatif, dan program digital, namun kesenjangan masih terjadi pada aspek output (capaian perkembangan anak) dan impact (dampak jangka panjang). Kesesuaian dengan standar PISA (IELS) juga masih rendah, terutama pada dimensi regulasi diri dan pemahaman literasi yang mendalam. Faktor penghambat utama adalah kapasitas guru yang belum merata, keterbatasan sarana digital, rendahnya partisipasi orang tua, dan belum adanya sistem pemantauan terpadu.

Saran

Bagi Pemerintah Kabupaten Bandung:

1. Mengembangkan sistem informasi PAUD terintegrasi berbasis web/mobile yang memantau indikator input, proses, output, dan impact secara real-time, dengan mengadopsi praktik baik dari sistem LEARNWITHFIRDAUS.
2. Memperluas program beasiswa S1 bagi guru PAUD yang belum memenuhi kualifikasi, serta menyediakan pelatihan berkelanjutan tentang deep learning, asesmen perkembangan anak, dan pemanfaatan AI dalam PAUD.
3. Menyusun standar penilaian perkembangan anak berbasis kearifan lokal yang tetap mengacu pada kerangka PISA (IELS), dengan melibatkan pakar psikologi perkembangan, antropologi budaya, dan praktisi PAUD.

Bagi Lembaga PAUD/TPA:

1. Meningkatkan keterlibatan orang tua melalui program parenting yang lebih intensif, home visit, dan pemanfaatan grup komunikasi digital.
2. Mengintegrasikan pendidikan karakter dan regulasi diri ke dalam kegiatan sehari-hari, misalnya melalui kegiatan circle time, role playing, dan mindfulness sederhana.
3. Melakukan dokumentasi portofolio perkembangan anak secara sistematis, tidak hanya aspek kognitif tetapi juga sosial-emosional.

Bagi Peneliti Selanjutnya:

1. Melakukan penelitian longitudinal untuk mengukur impact jangka panjang pendidikan PAUD di Kabupaten Bandung terhadap keberhasilan akademik di SD, SMP, dan SMA.
2. Mengembangkan model asesmen perkembangan anak yang adaptif secara budaya dan terintegrasi dengan teknologi digital.
3. Melakukan studi komparatif dengan kabupaten/kota lain di Indonesia yang telah berhasil meningkatkan kualitas PAUD secara signifikan.


DAFTAR PUSTAKA

Asep Rohmandar. (2022). Perancangan Program Turbo Vision untuk Peningkatan Profesionalisme Guru Dahsyat Bagi Proses Pembelajaran Peserta Didik Unggul di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan. COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 2(6), 709–719.

Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. (2025). Laporan Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi Guru PAUD: Mendorong Transformasi Metode Pembelajaran Abad Ke-21 yang Inovatif. Bandung: Disdik Kab. Bandung.

Kemendikbudristek. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Ketik.com. (2025, 4 Agustus). Bunda PAUD Kabupaten Bandung: Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah Isi Masa Emas Perkembangan Anak. Ketik News.

Moreno-Salto, I., & Robertson, S. L. (2024). Insights for the OECD's Baby PISA from Mexico's Large-Scale Assessment of Pre-Schoolers. Contemporary Issues in Early Childhood, 25(3), 290–303.

NU Online Jabar. (2025, 10 Juli). PAUD Kabupaten Bandung Didorong Terapkan Pendidikan Iklim Sejak Dini. NU Online.

OECD. (2018). International Early Learning and Child Well-being Study (IELS): Assessment Framework. Paris: OECD Publishing.

Pemerintah Kabupaten Bandung. (2025). Peraturan Bupati Kabupaten Bandung Nomor 149 Tahun 2025 tentang Perubahan Rencana Kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Tahun 2025. Soreang: Pemkab Bandung.

Pusat Asesmen Pendidikan. (2023). Literasi dan Numerasi dalam Asesmen Nasional. Jakarta: Kemendikbudristek.

SatuNews.id. (2025, 18 Juli). Tingkatkan Kualitas Pendidikan, PD IGRA Kabupaten Bandung Gelar Seminar. SatuNews.

Telkom University. (2025, 20 Juni). Mahasiswa Tel-U Berinovasi, TPA Duta Firdaus Kini Punya Sistem Monitoring Digital. Telkom University News.

Umari, A. A., & Wahyuni, I. R. (2022). Upaya Pendampingan Pembelajaran Daring untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan pada PAUD, SD, dan TPA di Rw 03 Cikoneng Kabupaten Bandung. PROCEEDINGS UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG, 1(66), 1–8.

WartaParahyangan.com. (2025, 29 November). Disdik Kabupaten Bandung Gelar Bimtek, Dorong Guru PAUD Adaptif terhadap Metode Pembelajaran Abad Ke-21. Warta Parahyangan.

Zhou, S., & Yang, Y. (2020). 学前版PISA(IELS)的实施争议及其方案探索 [The Disputation of Pre-school PISA (IELS) and Its Possible Scheme]. 现代基础教育研究, 37(1).



Conflict of Interest Statement: Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penelitian ini.

Funding: Penelitian ini didanai secara mandiri oleh  para penulis.

Ethical Approval: Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Lokal. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Selamat Ulang Tahun, Lahir September

Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?