Tradisi Botram Mungahan dalam sebuah keluarga di tanah Sunda
Tradisi Botram Mungahan dalam sebuah keluarga di tanah Sunda
Rasa yang Tak Pernah Pudar
Mentari sore di bulan September itu tidak terlalu terik. Cahayanya jingga keemasan menyelinap di sela-sela dedaunan pohon mangga di halaman, menciptakan riak-riak hangat di teras rumah Ema. Rumah panggung tua itu, dengan papan kayu yang berderit sedikit jika diinjak, sudah mulai dipenuhi suara riuh rendah."Ema, ikan masnya gede-gede, tadi saya pilih langsung dari empang!" seru Mang Udin, keponakan Ema, sambil mengangkat dua keranjang bambu berisi ikan mas yang masih segar dan menggeliat.
Ema, perempuan paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan kain sarung batik yang melilit di pinggangnya, tersenyum. Senyum yang sama yang selalu terpancang di setiap acara Mungahan. Acara tahunan untuk mendoakan para leluhur dan mensyukuri hasil bumi ini memang selalu menjadi magnet bagi seluruh keluarga besar. Hari ini, semua akan berkumpul. Botram alias makan bersama dengan alas daun pisang yang membentang panjang, menjadi puncak dari ritual tersebut.
Di dapur, kesibukan sudah memuncak sejak subuh. Tantenya Ema, Ceu Imas, dengan cekatan mengulek sambal terasi yang aromanya langsung menusuk hidung dan merangsang air liur. Keponakan perempuan sibuk mengiris-iris tomat, timun, dan petai sebagai lalapan. Asap mengepul dari tungku kayu tempat kawah besar merebus nasi liwet. Aroma daun salam, sereh, dan laos bercampur dengan wangi ikan yang baru saja digoreng kering di wajan besar.
"Eneng, ente jangan cuma liatin! Bantu Ceu Imas bersihin daun pisangnya," tegur Ema lembut pada cucu bungsunya yang asyik menatap layar ponsel.
"Siap, Ema!" gadis kecil itu segera meletakkan ponselnya dan ikut mengelap daun pisang yang sudah dibersihkan.
Satu per satu anggota keluarga berdatangan. Paman Asep datang bersama istrinya membawa besek anyaman bambu berisi pepes ikan mas. Keluarga dari Bandung datang dengan mobil membawa satu panci besar sayur asem. Om Usep, adik Ema yang merantau di Jakarta, tiba dengan koper kecil dan langsung melepas sepatunya untuk "tumis" alias duduk lesehan di ruang tengah.
"Alhamdulillah... pada datang semua," gumam Ema, menghitung kepala. Ada yang sedang sibuk di dapur, ada yang mengobrol di teras, anak-anak bermain kejar-kejaran di halaman, dan bapak-bapak mulai menyiapkan tempat untuk botram. Mereka menggelar beberapa lembar plastik besar di lantai ruang tengah, lalu di atasnya dialasi daun pisang yang sudah dibersihkan. Daun pisang itu disambung-sambung hingga membentuk alas sepanjang beberapa meter.
Menjelang magrib, saat azan berkumandang, semua makanan telah tersaji. Nasi liwet yang pulen dan gurih menggunung di tengah. Di sekelilingnya, berjejer lauk pauk khas Mungahan: ikan mas goreng, pepes ikan mas, ikan mas balado, ayam goreng, sambal terasi, lalapan mentah (timun, kemangi, tomat, petai, dan cabai rawit), sayur asem yang segar, serta tak ketinggalan kerupuk kulit dan sambal oncom.
Seluruh keluarga besar berkumpul mengelilingi alas panjang itu. Bapak-bapak duduk bersila di satu sisi, ibu-ibu di sisi lain, sementara anak-anak duduk atau bahkan jongkok di dekat orang tua mereka. Tidak ada kursi, tidak ada piring. Semua akan makan dengan tangan langsung dari daun pisang, dalam satu wadah kebersamaan yang disebut botram.
Sebelum makan, paman tertua memimpin doa, mendoakan para leluhur dan mensyukuri rezeki yang diberikan. Suasana hening sejenak, lalu pecah menjadi riuh rendah.
"Ayo, ambil nasinya jangan ragu!" seru Om Usep, matanya langsung tertuju pada sambal terasi.
"Cucu Ema, lauknya jangan pada ambil semua. Kasih adeknya," Ceu Imas mengingatkan.
Tangan-tangan mulai bergerak. Ada yang mengambil nasi, lalu ikan, lalu menyendok sambal. Suara orang mengunyah, suara sendok kayu menyendok sayur, suara tawa anak-anak yang kepedasan, lalu berlarian mencari minum, semua bercampur menjadi simfoni kebersamaan yang hangat. Bau daun pisang yang khas ikut meresap ke dalam nasi, menambah kenikmatan rasa yang sulit dilupakan.
Mang Udin yang sedari tadi sibuk memilih lauk, mengambil satu ikan mas goreng utuh. Dengan lincah jari-jarinya, ia menyuwir daging ikan yang gurih, mencampurnya dengan sambal terasi dan nasi hangat, lalu menyuapkannya ke mulut.
"Ema, ikan gorengnya punya Ema mah beda, ya! Gurihnya nendang!" pujinya.
Ema hanya tersenyum, hatinya berbunga-bunga melihat semua anak, cucu, dan kerabatnya makan dengan lahap. Inilah saat yang paling ia tunggu. Bukan sekadar soal makanan, tapi tentang bagaimana tradisi ini merekatkan kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan kota.
Di sudut lain, seorang anak kecil bertanya pada ibunya, "Mah, kenapa kita makan pakai daun pisang sih? Kan repot."
Ibunya tersenyum, "Biar lebih rame, lebih akrab, Nak. Kalau pakai piring sendiri-sendiri, jadi pada sibuk sendiri. Kalau botram begini, kita jadi satu keluarga, makan dari tempat yang sama, berbagi lauk, berbagi cerita. Ini namanya kebersamaan."
Sang anak mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti. Namun suatu hari nanti, saat ia dewasa, aroma nasi liwet yang terbungkus daun pisang dan riuh rendah tawa keluarganya saat botram akan menjadi memori yang selalu ia rindukan.
Malam pun tiba, perut kenyang, hati pun puas. Setelah botram, mereka melanjutkan dengan ngobrol santai, ditemani segelas teh manis hangat. Cerita tentang pekerjaan, sekolah, kabar sanak saudara, hingga rencana Mungahan tahun depan mengalir hangat. Ema termenung sejenak, memandangi semua orang yang dicintainya berkumpul dalam satu atap. Ia tahu, inilah warisan paling berharga yang bisa ia tinggalkan. Bukan harta, bukan benda, melainkan tradisi berkumpul, tradisi botram, tempat cinta dan rasa selalu hadir dalam setiap suapan.
Komentar
Posting Komentar