Doa Untuk Anaku, Agar Cepat Bekerja!

Doa  Untuk Anaku, Agar Cepat Bekerja!  

Cerpen oleh  :                                                  Ibu Oneng dan Ayahnya dengan bantuan  Claude AI 


Cahaya laptop memancar redup di kamar sempit itu. Pukul dua dini hari, Dira masih terjaga. Matanya sembab, menatap kosong layar yang menampilkan tulisan: "Maaf, sesi Anda telah berakhir karena koneksi terputus."
Ini yang kesekian kalinya. Dira sudah lupa berapa kali internet rumah kontrakan mereka yang pas-pasan ini mengkhianatinya di tengah tes online. Tadi, soal sudah hampir selesai. Tinggal lima menit lagi. Lima menit yang memisahkannya dari harapan.

Lalu koneksi putus.

Layar menjadi hitam. Begitu juga harapannya.

"Dira, nak..."

Suara Ibu membuatnya tersentak. Pintu kamar terbuka sedikit. Ibu berdiri di ambang dengan sajadah terlipat di tangan. Wajah Ibu pucat, lelah, tapi matanya masih terjaga.

"Ibu kira kamu sudah tidur," kata Dira, cepat-cepat menyeka matanya yang basah.

"Ibu habis tahajud. Doain kamu," jawab Ibu pelan. "Kenapa belum tidur? Ada tes lagi?"

Dira mengangguk lemah. "Tadi ada, Bu. Tapi... internetnya putus lagi. Padahal tinggal sedikit lagi."

Ibu diam sejenak. Lalu melangkah masuk, duduk di pinggir kasur sempit di samping Dira. Tangannya yang kasar—bekas bertahun-tahun cuci piring di rumah orang—meraih tangan Dira.

"Sudah berapa kali ini, Nak?" tanya Ibu, suaranya bergetar.

"Ibu... jangan khawatir. Aku baik-baik saja."

"Berapa kali, Dira?"

Dira terdiam. Lalu menghela napas panjang. "Entahlah, Bu. Mungkin... seratus lamaran sudah kukirim. Mungkin lebih. Yang dipanggil tes, sepuluh. Yang lolos sampai tahap wawancara... tiga. Dan semuanya ditolak."

Air mata Ibu jatuh. Ia menggigit bibirnya, menahan isak.

"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu yang gak bisa kasih kamu internet bagus. Gak bisa—"

"Ibu, jangan bilang begitu!" Dira memeluk Ibunya erat. "Ini bukan salah Ibu. Ibu sudah kerja keras banget buat nyekolahin aku sampai sarjana. Bapak sudah kerja keras angkat barang di pasar dari subuh sampai sore. Aku yang... aku yang gak berguna, Bu."

Tangis Dira pecah. Semua yang ditahannya selama berbulan-bulan akhirnya meluap. Frustrasi. Kekecewaan. Rasa bersalah yang membebani dada.

"Aku lulusan sarjana, Bu. Sarjana! Tapi kok rasanya kayak gelar ini gak ada artinya? Setiap kali lihat teman-teman posting dapat kerja di Instagram, aku cuma bisa senyum sambil ngerasa... tersisih. Kayak aku ini gagal, Bu."

Ibu memeluk Dira lebih erat, membiarkan air matanya membasahi rambut anaknya.

"Kamu bukan gagal, Nak. Zamannya yang susah. Ibu dengar di TV, katanya lulusan sarjana sekarang jutaan yang nganggur. Bukan salah kamu."

"Tapi kenapa harus aku, Bu? Kenapa harus kita?" bisik Dira lirih. "Aku udah belajar keras. IPK ku lumayan. Aku ikut organisasi. Aku magang. Aku belajar skill tambahan sampai begadang. Tapi kenapa... kenapa Tuhan belum kasih jalan?"

Ibu mengangkat wajah Dira, menatap mata anaknya yang merah.

"Dengar, Nak. Ibu setiap malam bangun tahajud. Setiap malam Ibu sujud sambil nangis, minta Allah bukain pintu rezeki buat kamu. Bapak kamu juga, tiap subuh di masjid, selalu doain kamu. Kita percaya, Allah gak tidur. Allah dengar semua doa kita."

"Tapi sampai kapan, Bu?" suara Dira tercekat. "Sampai kapan aku harus nunggu? Teman-teman udah pada kerja, udah bisa bantu orang tua. Aku? Aku masih ngerepotin Ibu sama Bapak. Masih makan dari uang Bapak yang udah tua itu angkat barang beratnya di pasar..."

Ibu mengusap pipi Dira dengan lembut.

"Rezeki itu ada waktunya, Nak. Allah lagi siapkan yang terbaik buat kamu. Ibu yakin."

"Tapi aku capek, Bu..." isak Dira. "Aku capek ditolak terus. Capek liat notifikasi 'Maaf, Anda belum berhasil di tahap ini.' Capek jawab pertanyaan saudara, 'Sudah kerja belum?' Capek lihat tatapan orang yang kayak bilang, 'Masak sarjana kok nganggur?' Aku capek, Bu..."

Keheningan menyelimuti kamar kecil itu. Hanya terdengar isak tangis dua perempuan yang saling menguatkan di tengah keputusasaan.


Pagi itu, Dira turun dari kamar dengan mata sembab. Bapaknya sudah duduk di teras, menyeruput kopi pahit sambil bersiap pergi ke pasar. Melihat Dira, Bapak tersenyum.

"Pagi, Nak. Udah sarapan?"

"Belum, Pak."

Bapak menepuk kursi di sampingnya. Dira duduk. Mereka diam-diam menikmati pagi yang masih sejuk.

"Bapak denger kamu nangis semalam," kata Bapak pelan. "Tes gagal lagi?"

Dira mengangguk. "Internet putus lagi, Pak."

Bapak menghela napas. "Maafin Bapak ya, Nak. Bapak gak bisa kasih kamu fasilitas yang layak."

"Pak, jangan bilang gitu..."

"Tapi Bapak mau kamu tau sesuatu." Bapak menatap Dira. "Bapak bangga sama kamu. Bangga banget. Kamu anak pertama di keluarga besar kita yang sarjana. Itu udah pencapaian luar biasa. Gak peduli kapan kamu dapat kerja, kamu tetep kebanggaan Bapak."

Air mata Dira jatuh lagi.

"Tapi Pak, aku belum bisa apa-apa buat Bapak sama Ibu..."

"Kamu udah buat kami bahagia, Nak. Cukup." Bapak menggenggam tangan Dira. "Soal rezeki, itu urusan Allah. Tugas kita cuma usaha dan doa. Bapak yakin, pintu pasti kebuka. Mungkin bukan sekarang, tapi pasti."


Sore harinya, Dira duduk di warung internet umum yang murah. Ia membuka email. Ratusan email penolakan memenuhi inbox-nya. Ia sudah terbiasa.

Tapi kali ini, ada satu email yang berbeda.

"Selamat! Anda lolos tahap administrasi..."

Jantung Dira berdegup kencang. Ia membaca berulang kali. Ini undangan tes. Lagi.

Seharusnya ia senang. Tapi setelah berkali-kali kecewa, Dira sudah lelah berharap.

Ia menatap langit sore dari jendela warnet. "Ya Allah... aku udah gak tau harus gimana lagi. Tapi kalau ini memang jalanku, kuatkan aku."


Malam itu, di masjid kecil kampung, Bapak bersujud lebih lama dari biasanya. 

Di rumah, Ibu bangun tengah malam, membentangkan sajadah, mengangkat tangan, berbisik dalam tangis.   Sambil Kupanjatkan Doa dalam Hati Sambil Bergumam :                 
Ya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa,
Kami memohon kepada-Mu, dengan hati yang tulus,
Aminkanlah doa kami, untuk anak kami yang tercinta,
Agar cepat mendapatkan pekerjaan yang layak, dan membawa kebahagiaan.

Ya Allah, Engkau tahu, betapa besar harapan kami,
Untuk anak kami, yang telah berusaha dan berdoa,
Mencari pekerjaan, yang sesuai dengan kemampuan,
Dan membawa kebaikan, bagi dirinya dan keluarga.

Ya Allah, berikanlah anak kami, pekerjaan yang baik,
Yang halal dan berkah, serta membawa kebahagiaan,
Beri dia kekuatan, untuk menghadapi tantangan,
Dan kesabaran, untuk menanti hasil yang terbaik.

Ya Allah, anak kami, masih muda dan berbakat,
Belum banyak pengalaman, tapi memiliki potensi besar,
Beri dia kesempatan, untuk membuktikan diri,
Dan menjadi orang yang sukses, di dunia dan akhirat.

Ya Allah, kami serahkan, anak kami kepada-Mu,
Lindungi dan bimbing, dalam setiap langkahnya,
Jadikanlah dia, orang yang baik dan sukses,
Dan bawa dia ke jalan, yang Engkau ridhai.

Ya Allah, kami mohon, dengan sangat,
Aminkanlah doa kami, untuk anak kami yang tercinta,
Agar cepat mendapatkan pekerjaan, yang layak dan baik,
Dan membawa kebahagiaan, bagi dirinya dan keluarga.

Ya Allah, kami percaya, bahwa Engkau adalah,
Tuhan yang Maha Kuasa, dan Maha Penyayang,
Kami serahkan, anak kami kepada-Mu,
Dan kami berharap, Engkau akan menjawab doa kami.

Amin, ya Rabb, amin, ya Allah,
Semoga doa kami, diterima oleh-Mu,
Dan anak kami, mendapatkan pekerjaan yang baik,
Dan membawa kebahagiaan, bagi dirinya dan keluarga.

Ya Allah, kami mohon, dengan sangat,
Aminkanlah doa kami, untuk anak kami yang tercinta,
Agar cepat mendapatkan pekerjaan, yang layak dan baik,
Dan membawa kebahagiaan, bagi dirinya dan keluarga.

Amin, ya Rabb, amin, ya Allah.                         
Dan di kamar sempit itu, Dira menatap sertifikat sarjananya yang tergantung di dinding. Selembar kertas yang konon katanya adalah tiket menuju masa depan cerah.

Tapi di tahun 2025 ini, di negeri yang katanya sedang berkembang ini, selembar ijazah terasa begitu ringan.

Begitu tak berarti.

Dira menutup mata. Berharap esok hari membawa jawaban yang lebih baik.

Berharap bangsa ini punya ruang untuk anak-anaknya yang berjuang.

Berharap Allah mendengar doa seorang ibu di tengah malam.


TAMAT


"Ada apa dengan bangsa ini, ketika jutaan sarjana menangis dalam diam, sementara janji-janji pembangunan hanya bergema di layar kaca?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Selamat Ulang Tahun, Lahir September

Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?