Rapat Koordinasi MDGs: Satire Politik
# Rapat Koordinasi MDGs: Satire Politik
Lokasi: Ruang rapat megah di Kantor Dinas Pembangunan Daerah, dengan banner MDGs yang mencolok di dinding.
Karakter:
- Pak Harto (Kepala Dinas): Birokrat senior yang fasih berbahasa Inggris campur Indonesia
- Bu Sari (Koordinator Program): Aktivis LSM yang idealis tapi pragmatis
- Mas Budi (Konsultan Internasional): Lulusan luar negeri dengan logat Jakarta
- Pak Joko (Kepala Desa): Perwakilan masyarakat yang polos tapi cerdas
- Mbak Dewi (Jurnalis): Wartawan investigatif yang kritis
Pak Harto: (membuka laptop MacBook dengan stiker UN)* Selamat pagi, ladies and gentlemen. Kita berkumpul hari ini untuk membahas progress MDGs kita. As you know, millennium development goals ini sangat crucial untuk image daerah kita di mata internasional.
Bu Sari: Pak Harto, sebelum kita mulai, saya ingin konfirmasi dulu. Anggaran 15 miliar untuk program pengentasan kemiskinan sudah cair belum?
Pak Harto: (mengelak) Ah, Bu Sari, kita fokus dulu ke big picture ya. Mas Budi, please present your findings.
Mas Budi: (membuka PowerPoint dengan grafik warna-warni) Jadi begini, berdasarkan data yang kita olah, poverty rate di daerah ini sudah turun 40% dalam tiga tahun terakhir. Ini achievement yang luar biasa!
Pak Joko: (menggaruk kepala) Maaf Mas, saya bingung. Di desa saya, warga yang dulu miskin ya masih miskin. Malah ada yang tambah miskin gara-gara sawahnya digusur buat proyek infrastruktur.
Mas Budi: (agak gugup) Eh, itu... itu mungkin sampling error, Pak. Methodology kita sudah sesuai standar internasional kok.
Mbak Dewi: (mencatat) Menarik sekali. Mas Budi, boleh saya tahu siapa yang jadi responden survei ini?
Mas Budi: (semakin gugup) Anu... itu... confidential data.
Bu Sari: (curiga) Pak Harto, kemarin saya ke lapangan. Rumah-rumah "sehat" yang kita klaim sebagai indikator kesehatan masyarakat ternyata cuma fasad. Dalemnya masih kotor dan kumuh.
Pak Harto: (defensif) Bu Sari, kita kan harus showcase yang terbaik. Biar donor internasional tertarik untuk continue funding.
Pak Joko: (polos) Tapi Pak, kan bohong namanya itu?
Pak Harto: (terkekeh) Pak Joko, ini bukan bohong. Ini strategy komunikasi modern. Creative presentation gitu lho.
Mbak Dewi: (mengejar) Pak Harto, saya sudah cek ke Kementerian. Ternyata dana bantuan internasional untuk MDGs sebesar 50 miliar sudah masuk dari tahun lalu. Ke mana uangnya?
Pak Harto: (mulai berkeringat) Mbak Dewi, dana itu... sedang dalam proses... ehm... capacity building.
Bu Sari: (sarkastik) Capacity building di rekening siapa, Pak?
Mas Budi: (mencoba mengalihkan) Guys, let's focus on the positive impact. Lihat, enrollment rate pendidikan sudah naik 60%!
Pak Joko: (spontan) Iya, karena banyak anak yang terpaksa sekolah gara-gara program wajib belajar. Tapi gurunya cuma datang seminggu sekali. Sisanya ngajar privat di tempat lain.
Mbak Dewi: (menunjuk data) Dan gaji guru honorer masih 200 ribu per bulan, sementara anggaran pendidikan 5 miliar. Matematikanya nggak cocok, Pak.
Pak Harto: (mulai panik) Mbak Dewi, jangan terlalu detail lah. Yang penting outcome-nya terlihat positif. Kita sudah berhasil mencapai target!
Bu Sari: (naik pitam) Target palsu, Pak! Sementara kita sibuk bikin laporan bagus, ibu-ibu di desa masih melahirkan tanpa bidan karena puskesmas tutup jam 2 siang!
Mas Budi: (desperate) Tapi Bu, kita kan sudah build 10 puskesmas baru...
Pak Joko: (mengangkat tangan) Iya, saya tahu puskesmas yang dimaksud. Gedungnya bagus, tapi nggak ada dokter. Cuma ada papan nama doang.
Mbak Dewi: (bertanya tajam) Pak Harto, rumor yang beredar, sebagian besar proyek MDGs ini cuma ghost project. Betul nggak?
Pak Harto: (gugup) Ghost project? Apa maksudnya ghost project? Semua project kita real, ada dokumentasinya!
Bu Sari: (mengeluarkan foto) Ini foto sumur bor yang diklaim bisa melayani 500 keluarga. Ternyata cuma kedalam 2 meter dan airnya asin.
Pak Joko: (menambahkan) Iya, terus program bantuan kambing untuk ibu-ibu miskin. Kambingnya dikasih seminggu, terus diminta balik lagi buat foto dokumentasi di desa sebelah.
Mas Budi: (mulai menyerah) Guys, ini kan... ini kan strategi optimization resources...
Mbak Dewi: (sarkastik) Strategi korupsi maksudnya?
Pak Harto: (berdiri panik) Mbak Dewi, hati-hati dengan statement! Ini bisa jadi pencemaran nama baik!
Bu Sari: (berdiri menghadap Pak Harto) Pak, saya sudah 10 tahun kerja di LSM. Saya tahu bedanya program genuine dan program akal-akalan. Yang ini jelas akal-akalan!
Pak Joko: (polos tapi dalam) Pak Harto, sebenarnya rakyat itu nggak bodoh. Cuma kita yang sering nganggap mereka bodoh. Mereka tahu mana yang beneran membantu, mana yang cuma buat laporan.
Mbak Dewi: (mencatat cepat) Pak Harto, saya akan publish investigasi ini besok. Any comment?
Pak Harto: (putus asa) Mbak Dewi, tunggu dulu. Kita bisa diskusi... ehm... kerjasama yang saling menguntungkan...
Bu Sari: (terkejut) Pak Harto, Bapak mau nyuap wartawan?
Pak Harto: (panik total) Bukan nyuap! Ini kan... corporate social responsibility! CSR untuk media!
Mas Budi: (berbisik) Pak, saya rasa kita sudah terlalu deep in shit...
Pak Joko: (menggeleng) Kasihan ya, program yang sebetulnya bagus malah jadi ajang cari untung. Padahal rakyat beneran butuh bantuan.
Mbak Dewi: (menutup catatan) Pak Harto, ini sudah jelas ada indikasi korupsi dana internasional. Saya akan koordinasi dengan KPK.
Pak Harto: (kolaps di kursi) KPK? Astaga... karir saya...
Bu Sari: (melihat jam) Pak Harto, dalam 2 jam lagi ada kunjungan delegasi UN untuk monitoring MDGs. Mau bilang apa sama mereka?
Pak Harto: (putus asa) Bu Sari... tolong... kita cancel aja acara itu...
Mas Budi: (panik) Pak, saya sudah prepare presentation 100 slide! Sudah siap talking points-nya!
Pak Joko: (tiba-tiba berdiri) Saya punya usul. Gimana kalau kita bilang yang sebenarnya ke delegasi UN?
Semua: (terkejut) HAH?!
Pak Joko: (tenang) Iya, kita bilang kalau program MDGs di sini belum berjalan optimal. Kita minta bantuan mereka untuk improve system, bukan cuma minta duit.
Bu Sari: (takjub) Pak Joko... ide yang brilliant!
Mbak Dewi: (tersenyum) Transparency approach. Menarik.
Pak Harto: (hopeless) Tapi... tapi... reputation kita...
Mas Budi: (tiba-tiba sadar) Pak Harto, actually... honesty might be the best policy. Daripada kita ketahuan bohong, mending kita transparent dari awal.
Pak Joko: (bijak) Pak Harto, rakyat itu lebih hargai pemimpin yang jujur daripada yang pinter ngomong tapi bohong.
Bu Sari: (optimis) Dan saya yakin, kalau kita transparent, justru donor internasional akan lebih percaya untuk kerjasama jangka panjang.
Mbak Dewi: (memasukkan alat tulis) Pak Harto, saya tunda dulu publish investigasi ini. Saya mau lihat, apakah Bapak berani honest sama delegasi UN nanti.
Pak Harto: (lama berpikir, kemudian mendesah) Baiklah... baiklah... mungkin memang sudah waktunya kita berbenah. Tapi... gimana ya cara bilang ke delegasi UN kalau kita udah... ehm... slightly exaggerate our achievements?
Mas Budi: (suddenly excited) Pak, kita bisa frame ini sebagai lesson learned! Kita bilang, dalam implementasi MDGs, kita menemukan gap antara planning dan reality. Sekarang kita mau adjust strategy!
Bu Sari: (tepuk tangan) Nah, itu dia! Reframing problem menjadi opportunity for improvement!
Pak Joko: (tersenyum) Iya, dan kita cerita juga kalau partisipasi masyarakat ternyata penting banget. Selama ini kita kurang involve rakyat dalam planning.
Mbak Dewi: (bangga) Ini baru namanya leadership yang bertanggung jawab.
Pak Harto: (mulai semangat) Jadi... jadi kita present aja honest assessment, kemudian propose new collaborative approach?
Mas Budi: (enthusiastic) Exactly! Dan kita emphasize community engagement, transparency, dan accountability sebagai key success factors!
Bu Sari: (optimis) Saya yakin, delegasi UN akan appreciate honesty kita. Mereka pasti sudah bosan dengan laporan-laporan yang terlalu bagus untuk dipercaya.
Pak Joko: (menambahkan) Dan yang paling penting, kita promise kalau ke depan, program MDGs akan beneran benefit masyarakat, bukan cuma benefit laporan.
Mbak Dewi: (tersenyum) Pak Harto, kalau Bapak konsisten dengan pendekatan ini, saya malah akan tulis artikel positif tentang transformation leadership di era MDGs.
Pak Harto: (relief) Mbak Dewi... terima kasih. Saya berjanji, mulai hari ini, kita akan run program MDGs dengan full transparency dan accountability.
Bu Sari: (berdiri) Baik, kalau begitu, let's prepare for the UN delegation meeting. Kita siapkan presentation yang honest tapi tetap hopeful.
Mas Budi: (semangat) I'm on it! Saya akan revise slides-nya dengan real data dan concrete action plan.
Pak Joko: (tersenyum lebar) Akhirnya, MDGs akan benar-benar jadi Millennium Development Goals, bukan Money Disappearing Goals.
Mbak Dewi: (tertawa) Pak Joko, that's a good one! Saya akan pakai quote itu dalam artikel saya.
Pak Harto: (menggeleng sambil tersenyum) Astaga, Pak Joko. Bapak ini ternyata comedian juga ya.
Bu Sari: (merangkul semua) Guys, ini adalah beginning of a new era. MDGs dengan pendekatan yang benar-benar people-centered.
Pak Joko: (bijak) Yang penting, kita ingat tujuan awal MDGs: untuk kesejahteraan rakyat. Bukan untuk kesejahteraan kantong pejabat.
EPILOG
Tiga bulan kemudian, program MDGs di daerah tersebut menjadi model percontohan nasional untuk transparansi dan partisipasi masyarakat. Pak Harto mendapat penghargaan dari UN untuk innovative approach in community engagement. Bu Sari menjadi koordinator regional MDGs. Mas Budi menulis buku tentang "Honest Development". Pak Joko menjadi konsultan community development. Dan Mbak Dewi memenangkan award jurnalisme investigatif untuk serial tulisan tentang transformasi program MDGs.
Moral cerita: Kadang-kadang, kebenaran adalah strategi terbaik untuk sukses jangka panjang. #cerpen #MDGs #Satire #Moral
Komentar
Posting Komentar