Misteri di Rumah Baru

Misteri di Rumah Baru

 Babak 1: Pertemuan Pertama

Pagi hari di halaman rumah baru. Salatir sedang memindahkan barang-barang saat seorang tukang parkir tua menghampiri.

Pak Karno (tukang parkir):  "Selamat pagi, Pak. Baru pindah ya?"

Salatir:  "Iya, Pak. Saya Salatir. Bapak siapa?"

Pak Karno: "Saya Karno, jaga parkir di depan gang sini. Eh, rumah ini... dulu kosong lama sekali. Hampir 10 tahun."

Salatir:  "Memangnya kenapa, Pak?"

Pak Karno: (menunduk)* "Pemilik sebelumnya... hilang mendadak. Katanya sih pergi ke luar negeri, tapi aneh. Barang-barangnya masih lengkap di dalam."

Salatir:  "Hmm, mungkin ada urusan mendadak. Oh ya, Pak, saya butuh pasang listrik. Tahu toko alat listrik yang bagus?"

Pak Karno: "Coba ke toko Pak Joko di ujung jalan. Dia paling tahu soal listrik."

Babak 2: Toko Alat Listrik

Salatir memasuki toko yang penuh dengan kabel dan peralatan listrik. Pak Joko sedang merapikan barang.

Pak Joko: "Selamat siang, Pak. Butuh apa?"

Salatir:  "Saya butuh instalasi listrik untuk rumah baru. Yang di gang Mawar nomor 15."

Pak Joko: (terhenti, mukanya berubah) "Rumah... nomor 15? Rumah Pak Sutrisno?"

Salatir: "Saya beli dari ahli warisnya. Memangnya Bapak kenal?"

Pak Joko: "Kenal banget. Dia langganan saya. Anehnya, sebelum hilang, dia beli alat listrik aneh-aneh. Inverter besar, baterai industrial, kabel khusus... seperti mau bikin sesuatu."

Salatir: "Bikin apa?"

Pak Joko:  "Entahlah. Yang pasti, tagihan listriknya mendadak naik drastis bulan terakhir sebelum dia hilang. Sampai PLN heran."

Babak 3: Kunjungan PLN

Keesokan harinya, petugas PLN datang untuk cek meteran. Mas Budi, pegawai PLN muda, tampak bingung.

Mas Budi: "Pak Salatir, meteran listrik rumah ini aneh."

Salatir:  "Aneh gimana?"

Mas Budi:  "Konsumsi listriknya sangat tinggi, tapi tidak sesuai dengan peralatan yang terlihat. Dan... ini meteran asli, tapi ada modifikasi."

Salatir: "Modifikasi?"

Mas Budi:  "Ada bypass tersembunyi. Sepertinya ada konsumsi listrik yang disembunyikan. Mungkin ada ruang tersembunyi yang menggunakan listrik besar."

Salatir: (mulai curiga) "Ruang tersembunyi?"

Mas Budi: "Saya sarankan Bapak panggil teknisi solar panel. Soalnya, ada jejak instalasi tenaga surya yang aneh di atap."

Babak 4: Teknisi Solar Panel

Pak Hasan, teknisi solar panel, datang dengan peralatan lengkap. Dia langsung menuju atap.

Pak Hasan: (turun dari atap, wajah serius) "Pak Salatir, ini bukan instalasi solar panel biasa."

Salatir: "Maksudnya?"

Pak Hasan:  "Panel surya di atap terhubung ke sistem yang sangat kompleks. Ada inverter besar di dalam rumah, dan... kayaknya ada ruang bawah tanah."

Salatir:  "Ruang bawah tanah? Tapi saya tidak tahu ada ruang bawah tanah."

Pak Hasan:  "Kabelnya menuju ke bawah. Dan konsumsi listriknya... ini bisa untuk menghidupi laboratorium kecil."

Babak 5: Kembali ke Pak Karno

Salatir kembali menemui Pak Karno yang sedang parkir di pos jaga.

Salatir:  "Pak Karno, ada yang aneh dengan rumah saya."

Pak Karno: (menoleh cemas) "Aneh gimana?"

Salatir: "Sepertinya ada ruang bawah tanah. Dan konsumsi listriknya sangat besar."

Pak Karno: (diam lama, lalu berbisik) "Pak Salatir... sebenarnya saya tahu sesuatu tentang Pak Sutrisno."

Salatir: "Apa?"

Pak Karno:  "Dia bukan hilang. Dia... mati di ruang bawah tanah itu. Saya yang menemukan."

Salatir: (shock) "Apa?!"

Pak Karno:  "Tapi saya tidak melapor polisi. Soalnya... yang di ruang bawah tanah itu... bukan untuk kejahatan."

Babak 6: Pengungkapan

Keesokan harinya, semua berkumpul di rumah Salatir: Pak Joko, Mas Budi, Pak Hasan, dan Pak Karno.

Salatir: "Tolong jelaskan semuanya, Pak Karno."

Pak Karno: (menghela napas) "Pak Sutrisno... dia dokter. Dokter yang kehilangan izin praktik karena melakukan riset ilegal."

Pak Joko: "Makanya dia butuh alat listrik banyak!"

Pak Karno:  "Dia bikin laboratorium bawah tanah untuk riset obat-obatan langka. Obat untuk penyakit yang belum ada obatnya."

Mas Budi:  "Jadi konsumsi listrik besar itu untuk alat laboratorium?"

Pak Hasan:  "Dan solar panel untuk backup power supaya risetnya tidak terganggu."

Pak Karno:  "Dia mati karena kecelakaan di lab. Terkena gas beracun. Saya menemukan tubuhnya, tapi juga menemukan... puluhan botol obat yang sudah jadi."

Salatir: "Obat untuk apa?"

Pak Karno: "Untuk anak-anak kanker di rumah sakit. Dia kirim gratis, tanpa nama. Saya yang bantu kirim."

Babak 7: Twist yang Tak Terduga

Tiba-tiba, pintu terbuka. Masuk seorang wanita paruh baya.

Wanita: "Selamat siang. Saya Dr. Sari, adik Pak Sutrisno."

Semua: (terkejut)

Dr. Sari:  "Saya dengar ada yang tinggal di rumah ini. Sebenarnya, kakak saya tidak mati."

Pak Karno: (bingung)  "Tapi saya menemukan..."

Dr. Sari: "Yang Bapak temukan adalah boneka latihan medis. Kakak saya memang pura-pura mati."

Salatir:  "Kenapa?"

Dr. Sari:  "Dia dikejar mafia farmasi karena obat temuannya bisa mengancam keuntungan mereka. Jadi dia pura-pura mati dan pindah ke Indonesia timur."

Pak Joko:  "Lalu sekarang?"

Dr. Sari: "Dia minta saya ambil hasil risetnya. Dan..." *(tersenyum)* "dia ingin donasi laboratorium ini untuk Pak Salatir."

Salatir: "Untuk saya? Kenapa?"

Dr. Sari: "Karena Pak Salatir kebetulan seorang apoteker yang kehilangan pekerjaan karena menolak jual obat palsu. Kakak saya sudah riset tentang Bapak sebelum jual rumah."

## Babak 8: Resolusi

Semua terdiam, terpukau oleh revelasi terakhir.

Salatir: (terharu) "Jadi... ini semua sudah direncanakan?"

Dr. Sari:  "Kakak saya percaya, laboratorium ini harus diteruskan oleh orang yang tepat. Pak Karno sudah cerita tentang integritas Bapak."

Pak Karno: (tersenyum) "Saya memang diminta jadi 'mata' untuk mengawasi calon pembeli rumah ini."

Mas Budi: "Jadi meteran listrik yang aneh itu..."

Dr. Sari:  "Supaya ada alasan teknisi PLN datang dan memastikan instalasi masih berfungsi."

Pak Joko:  "Dan saya diminta stock alat listrik khusus..."

Pak Hasan: "Saya juga diminta standby untuk maintenance solar panel."

Salatir: (tertawa) "Jadi kalian semua konspirasi untuk menguji saya?"

Dr. Sari: "Bukan menguji. Memastikan laboratorium ini jatuh ke tangan yang tepat. Dan sekarang, Pak Salatir resmi menjadi penerus riset kakak saya."

Pak Karno: "Selamat datang di tim rahasia penyelamat anak-anak sakit, Pak Salatir."

Salatir: (menggeleng kagum) "Saya kira beli rumah biasa. Ternyata dapat misi penyelamatan dunia."

Semua: (tertawa)

Dr. Sari:  "Oh ya, kakak saya pesan: meteran listrik akan tetap tinggi. Jadi bersiap-siap dengan tagihan PLN yang fantastis."

Mas Budi: (mengedip) "Tenang, ada 'diskon khusus' untuk laboratorium kemanusiaan."

Pak Hasan: "Dan solar panel akan saya upgrade gratis."

Pak Joko:  "Alat listrik juga dapat harga teman."

Salatir: (terharu)* "Terima kasih semuanya. Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan ini."

Pak Karno: "Sekarang, ayo kita buka laboratorium rahasia itu. Masih banyak obat yang harus dikirim ke rumah sakit."

Dr. Sari: "Dan Pak Salatir, selamat datang di keluarga baru Anda."

EPILOG

Tiga bulan kemudian, rumah di gang Mawar nomor 15 tampak seperti rumah biasa. Tapi di bawah tanah, laboratorium rahasia terus beroperasi. Pak Salatir berhasil melanjutkan riset Dr. Sutrisno, dengan bantuan tim yang solid: Pak Karno sebagai kurir rahasia, Pak Joko sebagai supplier alat, Mas Budi sebagai pengatur listrik, dan Pak Hasan sebagai teknisi energi.

Ratusan anak sakit terus menerima obat gratis tanpa mengetahui siapa pengirimnya. Dan di sebuah desa terpencil di Indonesia timur, Dr. Sutrisno tersenyum membaca laporan bahwa misinya berhasil diteruskan.*

Kadang, rumah baru bukan hanya tempat tinggal baru, tapi juga kehidupan baru yang penuh makna.

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?

Selamat Ulang Tahun, Lahir September