Cerpen : Impian Dibalik Warung Kopi

#Cerpen # Impian di Balik Warung Kopi

Hujan deras mengguyur atap seng warung kopi sederhana di ujung Gang Melati. Suara tetesan air yang bocor ke dalam ember plastik berwarna hijau pudar bersahutan dengan gemericik air yang mengalir deras di selokan depan warung. Sari mengusap keringat di dahinya sambil mengaduk-aduk kopi dalam gelas plastik bening, matanya menatap kosong ke arah jalan yang mulai tergenang.

"Ma, kopi tubruknya satu lagi!" teriak seorang tukang ojek dari meja pojok yang terbuat dari kayu bekas.

"Iya, sebentar ya, Bang!" sahut Sari sambil bergegas menyiapkan pesanan. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mencuci piring dan gelas bergerak lincah menakar kopi dan gula.

Di belakang warung, terdengar suara mesin jahit tua yang berderit. Itu suara Budi, suaminya, yang sedang menjahit celana untuk pesanan tetangga. Mesin jahit warisan dari mertua itu sudah hampir roboh, tapi masih setia menemani mereka mencari nafkah.

"Bud, mesin jahitnya bunyi aneh lagi," kata Sari sambil berjalan ke belakang warung.

Budi berhenti sejenak, mengangkat kepalanya yang mulai memutih di bagian pelipis. "Iya, tadi pagi juga sempat macet. Mungkin perlu dibawa ke tukang servis."

"Tapi kan..." Sari terdiam. Mereka berdua tahu kondisi keuangan keluarga. Uang hasil jualan kopi dan jahitan hanya cukup untuk makan sehari-hari dan bayar kontrakan.

"Nanti kita lihat dulu. Kalau masih bisa diperbaiki sendiri, ya kita perbaiki sendiri," kata Budi sambil tersenyum tipis, berusaha menenangkan istri yang terlihat cemas.

Sari mengangguk, lalu kembali ke depan warung. Pelanggannya sudah bertambah. Beberapa anak sekolah yang kehujanan mampir membeli gorengan dan es teh. Suara mereka yang ceria sedikit menghangatkan suasana warung yang sederhana itu.

"Tante, nasi uduknya satu ya!" kata seorang anak perempuan berseragam SMP sambil mengeluarkan uang receh dari kantong seragamnya.

"Iya, Dek. Mau ditambah tempe goreng?" tanya Sari ramah.

"Enggak, Tante. Uangnya pas-pasan."

Sari memandang anak itu dengan tatapan hangat. Ia ingat betul perjuangan untuk bersekolah dulu. Tanpa berkata apa-apa, ia menambahkan sepotong tempe goreng ke dalam bungkusan nasi uduk.

"Ini gratisan dari Tante. Biar semangat sekolahnya," kata Sari sambil menyerahkan bungkusan itu.

Mata anak itu berbinar. "Makasih, Tante!"

Sore itu, setelah warung tutup, Sari dan Budi duduk di kursi plastik merah yang sudah pudar warnanya. Mereka menghitung hasil jualan hari itu. Tiga puluh ribu rupiah. Cukup untuk beli beras dan lauk besok.

"Bud, kamu masih ingat nggak dulu kita pernah bermimpi punya rumah sendiri?" tanya Sari sambil melipat uang receh dan memasukkannya ke dalam toples bekas selai.

Budi tersenyum. "Masih. Dulu kita bilang, suatu hari nanti kita pasti punya rumah dengan halaman kecil. Kamu bisa nanam bunga-bunga, aku bisa buka bengkel jahit yang lebih besar."

"Sekarang rasanya mimpi itu makin jauh ya?" Sari menghela napas.

"Nggak juga. Mimpi itu masih di sini," Budi menunjuk dadanya. "Mungkin caranya yang harus kita ubah."

Keduanya terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran. Suara jangkrik mulai terdengar dari semak-semak di belakang warung. Malam semakin larut.

"Bud, gimana kalau kita coba jualan online?" tanya Sari tiba-tiba.

"Online? Kita kan nggak punya HP yang bagus, nggak ngerti juga cara-caranya."

"Tapi Dila, anak tetangga sebelah, dia sering bantu orang tua jualan online. Dia bilang sekarang banyak orang yang pesan makanan lewat aplikasi."

Budi mengangguk perlahan. "Kira-kira dia mau bantu kita nggak ya?"

"Besok kita tanya. Siapa tahu bisa nambah penghasilan."

Keesokan harinya, setelah warung kopi buka, Sari mendatangi rumah Dila. Gadis SMA itu sedang belajar di teras rumahnya.

"Dila, Tante mau tanya-tanya tentang jualan online. Bisa bantu Tante nggak?" tanya Sari dengan nada hati-hati.

Dila menutup bukunya. "Bisa, Tante. Mau jualan apa?"

"Makanan. Nasi uduk, gorengan, kopi. Kayak yang di warung Tante."

"Wah, bagus tuh, Tante. Sekarang lagi musim orang pesan makanan online. Tante punya HP?"

Sari mengeluarkan HP jadul dari kantong bajunya. "Cuma punya ini."

Dila tersenyum. "Nggak apa-apa, Tante. Nanti kita pakai HP saya dulu buat foto-foto makanannya. Terus nanti kalau udah mulai laku, baru Tante beli HP yang lebih bagus."

"Tapi Dila, Tante nggak punya uang buat bayar kamu."

"Nggak usah bayar, Tante. Tante kan sering kasih aku gorengan gratis. Ini cara saya bales budi."

Mata Sari berkaca-kaca. "Makasih ya, Dila. Tante nggak nyangka kamu mau bantu."

"Sama-sama, Tante. Kapan kita mulai?"

"Besok? Tante mau diskusi dulu sama Bapak."

Malam itu, Sari bercerita kepada Budi tentang obrolan dengan Dila. Budi tampak antusias.

"Kalau gitu, besok kita coba bikin menu yang lebih bervariasi. Selama ini kan kita cuma jual yang itu-itu aja."

"Iya, Bud. Tante Sari di sebelah gang sering cerita, dia jualan ayam geprek laku banget. Kita coba bikin juga, gimana?"

"Boleh. Tapi modalnya dari mana?"

Sari menunjuk toples bekas selai di rak. "Dari tabungan kita. Lumayan terkumpul dua ratus ribu."

"Tapi kan itu buat bayar kontrakan bulan depan."

"Kita coba dulu, Bud. Kalau gagal, ya sudah. Tapi kalau berhasil, mungkin kita bisa dapat lebih banyak."

Budi terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Kita coba."

Seminggu kemudian, warung kopi sederhana itu mulai berubah. Dila datang setiap sore untuk membantu memotret makanan dan mengunggahnya ke berbagai platform online. Sari belajar membuat ayam geprek, nasi bakar, dan berbagai camilan yang sedang trend.

"Tante, ini pesanan dari aplikasi. Ayam geprek tiga porsi, nasi bakar dua porsi," kata Dila sambil menunjukkan layar HPnya.

"Wah, beneran ada yang pesan!" seru Sari gembira.

"Tante, sekarang pesanannya udah mulai banyak. Mungkin Tante perlu tambah peralatan dapur."

"Iya, tapi uangnya belum cukup. Nanti dulu ya."

Budi yang mendengar percakapan itu ikut mendekat. "Dila, sekarang ada berapa pesanan sehari?"

"Rata-rata lima belas sampai dua puluh pesanan, Om. Lumayan kan?"

"Alhamdulillah. Jauh lebih banyak dari yang kita kira."

Dua bulan berlalu. Warung kopi itu semakin ramai. Pesanan online terus berdatangan. Sari dan Budi harus bekerja dari pagi sampai malam untuk memenuhi pesanan.

"Bud, kita perlu bantuan. Aku nggak kuat lagi masak sendirian," kata Sari suatu sore sambil memijat punggungnya yang pegal.

"Gimana kalau kita ajak Mbak Rina? Dia kan lagi nyari kerja."

"Iya, besok kita tanya dia."

Rina, tetangga mereka yang baru saja kehilangan pekerjaan, dengan senang hati mau membantu. Ia mahir memasak dan cepat belajar.

"Mbak Sari, ini pesanan dari hotel. Mereka mau pesan nasi box untuk acara meeting. Lima puluh porsi," kata Dila sambil menunjukkan pesanan di HP.

"Lima puluh porsi?" Sari terkejut. "Kita sanggup nggak ya?"

"Pasti sanggup, Mbak. Kita kan sekarang bertiga," kata Rina sambil tersenyum.

"Tapi kita butuh panci yang lebih besar, kompor tambahan juga."

"Bud, gimana kalau kita pinjam dulu ke Bank?" tanya Sari.

Budi yang sedang menjahit menghentikan pekerjaannya. "Pinjam ke bank? Kita kan nggak punya jaminan apa-apa."

"Ada KTP, ada warung ini. Siapa tahu bisa."

"Tapi kalau nggak bisa bayar gimana?"

"Kita harus optimis, Bud. Lihat, sekarang pesanan kita udah bertambah banyak. Pendapatan kita juga udah naik."

Budi mengangguk perlahan. "Baiklah. Besok kita coba ke bank."

Di bank, mereka bertemu dengan seorang petugas yang ramah. Setelah menjelaskan kondisi usaha mereka, ternyata mereka bisa mendapat pinjaman modal usaha kecil.

"Bapak, Ibu, usaha Bapak ini termasuk kategori yang kami dukung. Apalagi dari data yang Bapak tunjukkan, omzet Bapak terus meningkat dalam tiga bulan terakhir."

"Jadi bisa dipinjamkan?" tanya Sari dengan harapan.

"Bisa, Bu. Tapi ada syarat dan ketentuannya. Bapak harus melengkapi dokumen usaha dan ada agunan."

"Agunan apa yang bisa kami pakai?"

"Sertifikat rumah, BPKB motor, atau aset lainnya."

"Kami cuma punya motor tua, tapi nggak tau BPKB-nya masih ada atau nggak."

"Coba dicari dulu, Pak. Kalau nggak ada, mungkin bisa pakai jaminan pribadi."

Pulang dari bank, Sari dan Budi mencari-cari dokumen lama mereka. Di dalam kardus berdebu, mereka menemukan BPKB motor yang sudah lusuh.

"Ini dia!" seru Budi. "Masih ada."

"Bud, kita yakin nggak ambil pinjaman ini?"

"Kalau nggak sekarang, kapan lagi, Ri? Kesempatan kayak gini nggak datang dua kali."

"Iya juga. Oke, besok kita ke bank lagi."

Seminggu kemudian, mereka mendapat persetujuan pinjaman. Dengan uang itu, mereka membeli peralatan dapur yang lebih lengkap, memperbesar warung, dan bahkan menyewa satu orang lagi untuk membantu.

"Tante, sekarang pesanan online kita udah tembus seratus pesanan sehari," kata Dila suatu sore.

"Seratus? Bener nggak?" Sari tidak percaya.

"Bener, Tante. Bahkan ada yang dari luar kota. Mereka pesan untuk dikirim ke Jakarta."

"Subhanallah. Nggak nyangka ya, Bud?"

Budi tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Tapi kita nggak boleh lupa diri. Tetap harus hati-hati dan bersyukur."

Enam bulan kemudian, warung kopi sederhana itu sudah berubah menjadi rumah makan yang cukup besar. Mereka punya lima karyawan dan melayani tidak hanya pelanggan offline, tapi juga online dari berbagai kota.

"Bud, kamu masih ingat nggak, dulu kita bermimpi punya rumah sendiri?" tanya Sari suatu malam setelah rumah makan tutup.

"Masih. Kenapa?"

"Sekarang kita udah bisa beli rumah."

"Bener?"

"Iya. Tadi aku hitung-hitung, tabungan kita udah cukup buat DP rumah yang di ujung gang. Yang ada halaman kecil itu."

Budi memeluk istrinya. "Alhamdulillah. Nggak nyangka mimpi kita bisa jadi kenyataan."

"Iya, Bud. Dan yang lebih nggak nyangka, ternyata jalan menuju mimpi itu nggak seperti yang kita bayangkan dulu."

"Maksudnya?"

"Dulu kita pikir, mimpi itu hanya bisa dicapai dengan kerja keras biasa. Ternyata, dengan bantuan teknologi dan orang-orang baik di sekitar kita, mimpi itu bisa terwujud lebih cepat."

"Bener juga. Kalau nggak ada Dila yang bantu, mungkin kita masih jualan kopi biasa aja."

"Makanya, kita harus selalu ingat untuk membantu orang lain juga. Siapa tahu dengan membantu orang lain, kita juga dibantu sama Allah."

Mereka berdua menatap langit malam yang berbintang. Di hati mereka, rasa syukur mengalir deras. Impian yang dulu terasa mustahil, kini sudah ada di genggaman.

"Bud, sekarang kita harus punya mimpi yang lebih besar lagi."

"Mimpi apa?"

"Gimana kalau kita buka cabang di kota lain? Atau malah bikin franchise?"

Budi tertawa. "Waduh, mimpinya udah gede banget ya sekarang?"

"Kan nggak ada salahnya bermimpi besar. Siapa tahu Allah kasih jalan lagi."

"Iya juga. Tapi satu-satu dulu ya. Kita konsolidasi dulu usaha yang sekarang."

"Setuju."

Mereka menutup malam itu dengan doa dan harapan. Perjalanan mereka dari warung kopi sederhana menjadi rumah makan yang sukses mengajarkan mereka bahwa mimpi terbesar sekalipun bisa terwujud dengan cara yang tak terduga. Yang penting adalah tidak pernah berhenti berusaha, selalu bersyukur, dan tidak lupa membantu sesama.

Keesokan harinya, mereka mulai merencanakan langkah selanjutnya. Dengan semangat yang sama seperti dulu, mereka siap menghadapi tantangan baru untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang lebih besar. #Story #ceritapendek #impian #family #succes 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?

Selamat Ulang Tahun, Lahir September