Cerpen : Dua Dunia dalam Satu Langit
Dua Dunia dalam Satu Langit
Sebuah cerpen dalam dialog tentang kemiskinan dan kesenjangan di Indonesia
Tokoh:
- Sari : Mahasiswa semester akhir dari keluarga menengah ke atas
- Budi : Tukang becak yang juga berjualan gorengan
- Pak Harto : Pensiunan PNS yang sering berkumpul di warung
- Ibu Tini : Pemilik warung kecil tempat mereka bertemu
Setting: Warung kecil di pinggir jalan, sore hari. Sari sedang menunggu ojek sambil minum es teh. Budi baru saja parkir becaknya di depan warung.
Sari : "Pak, boleh saya bertanya? Bapak sudah berapa lama jadi tukang becak?"
Budi : (mengusap keringat) "Wah, udah hampir dua puluh tahun, Mbak. Sejak pabrik tempat saya kerja tutup."
Sari : "Pabrik apa, Pak?"
Budi : "Pabrik tekstil. Dulu saya operator mesin. Gajinya lumayan, bisa buat nyekolahin anak. Tapi ya gitu, krisis ekonomi, PHK massal."
Ibu Tini : (dari balik warung) "Pak Budi itu dulu pegawai teladan, lho, Mbak. Sekarang masih rajin, dari subuh udah keliling cari penumpang."
Sari : "Lalu kenapa tidak cari kerja lain di pabrik lain?"
Budi : (tertawa pahit) "Gampang bilangnya, Mbak. Umur udah kepala empat, siapa yang mau nerima? Lagipula, pabrik-pabrik banyak yang pindah ke luar negeri atau pakai robot. Katanya Indonesia ini negara industri, tapi kok yang diuntungkan cuma segelintir orang?"
Pak Harto datang dengan sepeda tuanya
Pak Harto : "Lagi ngomongin apa ini?"
Budi : "Pak Harto, ini mahasiswa tanya-tanya soal kerja. Saya cerita masa-masa dulu."
Pak Harto : (duduk di kursi plastik) "Dulu saya PNS, Mbak. Pensiun 2015. Kalau lihat sekarang, beda banget sama jaman dulu."
Sari : "Bedanya gimana, Pak?"
Pak Harto : "Dulu meski gaji PNS kecil, tapi masih bisa hidup wajar. Sekarang? Pensiun saya cuma dua juta. Di Jakarta, dua juta itu buat apa? Kontrakan aja udah satu setengah juta."
Ibu Tini : (sambil menyiapkan gorengan) "Makanya Pak Harto sekarang tinggal di rumah anaknya. Untung anaknya baik."
Pak Harto : "Tapi kan kasihan juga, Mbak. Anak saya kerja di bank, gajinya lumayan, tapi buat hidup di Jakarta plus nanggung bapaknya... ya pasti berat."
Sari : "Tapi kan Indonesia katanya negara kaya, Pak. SDA melimpah, ekonomi tumbuh..."
Budi: (menyela) "Kaya siapa, Mbak? Yang kaya itu yang punya tambang, yang punya perusahaan besar. Kita-kita ini cuma jadi penonton."
Pak Harto : "Betul kata Pak Budi. Dulu saya kerja di Kementerian ESDM. Tau sendiri, minyak, gas, emas, nikel, semuanya melimpah. Tapi yang nikmatin siapa? Rakyat kecil dapat apa?"
Sari : "Tapi kan ada program-program pemerintah, Pak. Bantuan sosial, BLT..."
Budi : "Ada sih, Mbak. Tapi itu kan cuma setetes air di gurun. Saya dapet BLT 300 ribu per bulan. Cukup buat apa? Beli beras aja udah 150 ribu."
Ibu Tini : "Nah itu dia. Harga-harga naik terus, tapi penghasilan kita segitu-segitu aja. Saya jual gorengan dari pagi sampe sore, untungnya paling 50 ribu sehari. Itu juga kalau laku semua."
Pak Harto : "Yang bikin kesel, Mbak, lihat berita di TV. Konglomerat beli mobil mewah triliunan, rumah di luar negeri, sementara di sekitar kita masih ada yang makan nasi aking."
Sari : "Nasi aking masih ada, Pak?"
Budi : "Mbak kuliah di mana? Kalau jalan-jalan ke kampung, masih banyak yang makan nasi aking, singkong, atau malah nggak makan sehari penuh."
Ibu Tini : "Kemarin tetangga saya, anaknya sakit tapi nggak ada uang buat berobat. Akhirnya saya sama warga sekitar patungan. Kata dokter, anaknya kurang gizi."
Sari: (terdiam sejenak) "Saya... saya nggak tahu kalau separah itu."
Pak Harto : "Ya wajar, Mbak. Beda dunia. Mbak tinggal di mana?"
Sari : "Kemang, Pak."
Budi : "Nah, beda kan? Di Kemang berapa ratus juta satu rumah? Sementara di sini, keluarga saya berdelapan tinggal di kontrakan 2x3 meter."
Pak Harto : "Itu yang jadi masalah, Mbak. Kesenjangan yang makin lebar. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin terjepit."
Sari : "Tapi ekonomi Indonesia kan katanya tumbuh 5 persen per tahun?"
Budi : (tertawa sinis) "Tumbuh buat siapa, Mbak? Saya nggak ngerasain pertumbuhan ekonomi. Yang ngerasain naik harga bahan pokok."
Ibu Tini : "Betul, Pak Budi. Dulu modal jualan gorengan 50 ribu, sekarang 150 ribu. Tapi harga jual nggak bisa naik banyak-banyak, nanti pembeli kabur."
Pak Harto : "Sistem ekonomi kita emang bermasalah, Mbak. Hasil kekayaan alam Indonesia sebagian besar dinikmati asing sama segelintir orang dalam negeri. Rakyat kecil cuma jadi buruh atau konsumen."
Sari : "Lalu solusinya apa, Pak?"
Budi : "Wah, kalau solusi saya nggak tau, Mbak. Saya cuma rakyat kecil. Tapi yang jelas, pemerintah harus lebih adil bagi hasil kekayaan negara."
Pak Harto : "Pendidikan juga penting. Anak-anak miskin harus bisa sekolah tinggi tanpa khawatir biaya. Biar mereka punya kesempatan yang sama."
Ibu Tini : "Sama, akses kesehatan. Jangan sampai ada yang mati karena nggak mampu berobat."
Sari : "Anak Bapak sekarang gimana, Pak?"
Budi : (menghela napas) "Yang sulung SMA, nilai bagus, pengen kuliah. Tapi saya mana mampu bayar kuliah. Dia bilang mau kerja aja, bantu keluarga. Padahal dia pinter, Mbak."
Pak Harto : "Nah, itu dia tragedi bangsa ini. Anak-anak pinter nggak bisa lanjut sekolah karena faktor ekonomi. Sementara anak orang kaya, meski nilai pas-pasan, bisa kuliah di mana aja."
Sari : *(dengan nada sedih) "Saya... saya merasa bersalah. Selama ini saya pikir semua orang punya kesempatan yang sama."
Budi : "Jangan merasa bersalah, Mbak. Bukan salah Mbak lahir dari keluarga mampu. Tapi sekarang Mbak udah tau, jangan lupa sama yang di bawah."
Ibu Tini : "Betul kata Pak Budi. Kalau nanti Mbak jadi orang sukses, ingat nasib orang kecil kayak kita."
Pak Harto : "Indonesia ini negara yang kaya, Mbak. Tanah subur, laut luas, tambang melimpah. Harusnya nggak ada kemiskinan. Tapi sistem politiknya yang bermasalah."
Sari : "Maksudnya gimana, Pak?"
Pak Harto : "Kebijakan lebih menguntungkan korporasi besar daripada rakyat kecil. Subsidi buat perusahaan besar, tapi subsidi BBM buat rakyat dikurangi."
Budi : "Iya, Mbak. Dulu BBM murah, sekarang mahal. Katanya biar berhemat, tapi yang berhemat rakyat kecil. Yang kaya mah tetep boros."
Ibu Tini : "Saya sih maunya sederhana aja. Bisa makan tiga kali sehari, anak bisa sekolah, kalau sakit bisa berobat. Nggak minta jadi kaya."
Sari : "Tapi itu kan hak dasar manusia, Bu."
Pak Harto : "Nah, itu dia. Hak dasar aja susah dipenuhi. Padahal di UUD 1945 jelas ditulis, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara."
Budi : "Teori sama praktik beda, Pak. Di atas kertas bagus, kenyataannya...ya kayak gini."
Suasana hening sejenak
Sari : "Bapak-bapak, Ibu, terima kasih sudah mau bercerita. Saya jadi banyak belajar."
Budi : "Sama-sama, Mbak. Semoga nanti kalau jadi orang sukses, ingat obrolan hari ini."
Ibu Tini : "Amin. Semoga generasi Mbak bisa bikin Indonesia lebih adil."
Pak Harto : "Yang penting, jangan lupa akar rumput. Kemajuan yang sejati itu kalau semua lapisan masyarakat ikut maju."
Sari: (sambil berdiri) "Saya akan ingat, Pak, Bu. Terima kasih sudah membuka mata saya."
Budi : "Hati-hati di jalan, Mbak. Semoga sukses kuliahnya."
Sari naik ojek yang sudah datang, dalam hati ia merenungkan percakapan tadi. Sementara Budi, Pak Harto, dan Ibu Tini kembali ke rutinitas mereka - perjuangan hidup sehari-hari di negeri yang konon kaya raya.
TAMAT
Cerpen ini menggambarkan realitas kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia, sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam namun masih menghadapi kemiskinan struktural. Melalui dialog antarkarakter dari berbagai latar belakang, cerpen ini mengundang pembaca untuk merenungkan kontradiksi antara kekayaan negara dan kemiskinan sebagian rakyatnya.
Komentar
Posting Komentar