Idul Adha, kurban, dan pulang haji.

Pesan spiritual seputar Idul Adha, kurban, dan haji.
Ngopi Santai, Bahas Kurban, dan Haji Gaul
Sabtu sore itu, kafe "Tongkrongan Gaul" riuh rendah. Aroma kopi dan roti bakar menyeruak. Di pojok, tiga cowok duduk santai. Ada Rizal, si karyawan swasta yang baru gajian, Bimo si pemilik distro online yang lagi banyak orderan, sama Aldo, si influencer muda yang baru pulang haji beberapa minggu lalu.
"Gila, Bro, makin deket Idul Adha, dompet rasanya makin tipis aja nih," keluh Rizal, menyeruput es kopinya. "Mana harga sapi makin 'ngeri' aja."
Bimo nyengir. "Sama, Zal. Tapi kan ini kesempatan emas, bro. Tiap tahun cuma sekali. Lagian, kurban itu investasi akhirat, bukan?"
"Iya, sih. Gue juga niatnya mau nyicil kurban kambing. Tapi kadang mikir, 'duit segitu bisa buat healing kemana ya?'" Rizal terkekeh, tapi ada nada jujur di balik candanya.
Aldo, yang dari tadi diam, akhirnya nimbrung. "Nah, itu dia poinnya, Zal. Sering kita mikir investasi dunia mulu. Padahal yang kekal kan yang buat akhirat. Kurban itu ya bukti cinta kita sama Allah. Kayak Nabi Ibrahim dulu, rela ngorbanin anak kesayangan demi perintah Tuhan."
"Iya, tapi kan itu Nabi, Do. Kalau kita kan ya... manusia biasa yang banyak khilafnya," Rizal ngeles.
"Justru itu, Zal," sambung Aldo. "Kan kurban itu juga buat nyucikan diri, buang sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita. Sifat egois, serakah, sombong. Kayak kita lagi 'nyembelih' hawa nafsu sendiri."
Bimo mengangguk. "Bener banget, Do. Gue tiap kurban selalu mikir, ini daging yang gue kasih ke fakir miskin, Insya Allah jadi saksi di akhirat nanti. Rasanya tuh beda aja berkahnya."
Obrolan mereka bergeser ke pengalaman haji Aldo.
"Gimana, Do, rasanya pas wukuf di Arafah? Katanya vibe-nya beda ya?" tanya Rizal penasaran.
Aldo senyum tipis. "Gila, Zal. Kalau diceritain nggak bakal cukup ini kopi sepoci. Lo bayangin, jutaan orang dari berbagai negara, latar belakang beda-beda, tapi tujuannya satu: ibadah. Di sana, semua sama. Nggak ada bedanya Aldo si influencer atau Bimo si pemilik distro. Semua pakai ihram putih, nggak ada embel-embel brand."
"Kayak reset hidup ya, Do?" timpal Bimo.
"Banget, Bro!" seru Aldo. "Di sana tuh, lo bener-bener ngerasa kecil banget di hadapan Allah. Dosa-dosa kayak kebuka semua. Nangis nggak karuan. Rasanya tuh, selama ini hidup cuma ngejar dunia, tapi lupa kalau ada yang Maha Kuasa."
Rizal menghela napas. "Pasti feel-nya beda banget ya. Pengen deh suatu saat bisa ke sana juga."
"Insya Allah, Zal. Niatin aja dari sekarang. Jangan nunggu nanti-nanti. Kurban itu juga kan kayak simulasi kecil dari haji. Sama-sama butuh keikhlasan, sama-sama butuh pengorbanan," kata Aldo.
Tiba-tiba, Bimo teringat sesuatu.
"Eh, Do, waktu lo tawaf, lo ngerasa ada 'energi' apa gitu nggak? Temen gue ada yang bilang rasanya kayak ditarik aja ngelilingin Ka'bah," tanya Bimo, matanya berbinar.
Aldo tertawa pelan. "Hahaha, kalau itu sih tergantung keimanan masing-masing, Bro. Tapi yang jelas, lo bakal ngerasa kedamaian yang luar biasa. Setiap langkah, setiap doa, rasanya tuh 'nyampe' banget. Udah gitu, pas lihat Ka'bah pertama kali, itu momen yang nggak bisa dilupain. Kayak semua beban langsung plong."
"Mantap banget, Do," ujar Rizal, "jadi makin semangat nih nyari duit buat haji sama kurban."
"Jangan cuma semangat nyari duitnya, Zal," kata Aldo, menatap Rizal serius. "Semangat juga buat ngumpulin 'tabungan iman'-nya. Kurban itu melatih keikhlasan. Haji itu puncak dari ikhlas. Jangan sampai kita cuma mikir ritualnya aja, tapi lupa sama pesan spiritual di baliknya."
"Iya juga ya," Rizal mengangguk-angguk. "Terkadang kita cuma mikir, 'udah kurban, udah haji, berarti beres'. Padahal kan itu baru permulaan."
"Betul," sahut Bimo. "Kurban itu ngajarin kita berbagi. Haji itu ngajarin kita kesabaran dan keikhlasan. Pulang dari sana, harusnya kita jadi pribadi yang lebih baik. Nggak cuma statusnya aja yang 'Haji' atau 'Hajjah'."
Aldo tersenyum. "Nah, Bimo bener banget. Ini nih yang seringkali dilupain. Makanya, kalau nanti kalian mau kurban atau haji, niatin bener-bener. Anggap ini kayak 'upgrade' diri kita. Bukan cuma upgrade status sosial, tapi upgrade spiritual."
Mereka bertiga terdiam sejenak, meresapi obrolan santai yang ternyata dalam maknanya. Kopi mereka sudah dingin, tapi semangat mereka untuk Idul Adha dan perjalanan spiritual lainnya justru makin hangat.
"Oke deh, Do. Insight-nya mantap banget!" kata Rizal. "Gue cabut dulu nih, mau ngecek harga kambing yang agak miring."
Bimo ikut berdiri. "Gue juga, mau ngecek stock baju koko baru buat Idul Adha. Biar pas sholat makin kece."
Aldo hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Ia tahu, pesan spiritual itu tak harus selalu disampaikan dengan ceramah formal. Kadang, secangkir kopi dan obrolan santai di tongkrongan justru bisa menembus hati, memicu kolaborasi pemikiran tentang makna hidup dan ibadah.
Semoga niat yang baik dapat membawa keberkahan hidup baik di dunia maupun akhirat nanti. Wassalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Cerpen : Generasi Emas atau Generasi Chaos?

Selamat Ulang Tahun, Lahir September