Gaung Takbir di Sukapura: Kolaborasi Kurban
Ini cerita pendek tentang pelaksanaan penyembelihan dan distribusi hewan kurban di RT 04 dan RT 05 RW 01 Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung, dengan dialog penuh makna hingga hari Tasyrik berakhir.
Gaung Takbir di Sukapura: Kolaborasi Kurban
Sabtu pagi, 17 Juni 2025 (10 Dzulhijjah 1447 H), lapangan kosong di antara RT 04 dan RT 05 RW 01 Sukapura, Dayeuhkolot, sudah ramai oleh warga. Udara dingin Bandung tak menyurutkan semangat. Panitia kurban, yang didominasi oleh bapak-bapak dan pemuda karang taruna, sibuk menyiapkan alat-alat.
Pak RT 04, Pak Dedi, dengan handy talkie di tangan, berteriak, "Tim jagal, sudah siap semua? Golok sudah diasah? Tali mana tali!"
"Siap, Pak RT! Sudah dari subuh diasah!" sahut Mang Ujang, jagal senior di kampung itu, sambil memamerkan goloknya yang berkilat.
Di sisi lain, Ibu Ida, koordinator ibu-ibu, sibuk mengatur tenda untuk pos pengolahan daging. "Neng Lilis, tolong cek kantong plastiknya. Jangan sampai kurang ya! Ibu-ibu, nanti bantu potong bagian kecil-kecil, ya!"
Faiz, pemuda karang taruna yang baru lulus kuliah dan kini jadi Ketua Panitia Kurban Gabungan RT 04-05, celingukan. "Pak RT, sapi sama kambing sudah siap di pos penampungan? Jangan sampai stres hewannya."
"Beresss, Faiz! Sudah dicek sama Pak Kyai juga. Semua sehat," jawab Pak RT Dedi. "Alhamdulillah, tahun ini kita dapat 3 sapi dan 15 kambing. Nambah banyak dibanding tahun lalu!"
"Masya Allah, berkah ya, Pak!" timpal Faiz, hatinya lega. "Ini bukti kalau warga kita makin sadar pentingnya berbagi, pentingnya berkurban."
Proses penyembelihan dimulai setelah sholat Idul Adha dan khutbah selesai. Takbir terus berkumandang mengiringi setiap prosesi. Wajah-wajah panitia tampak serius namun ikhlas.
Aldo, pemuda yang baru pulang haji, ikut membantu memegangi tali sapi. Keringat membasahi dahinya. "Berat juga ya, ternyata. Tapi rasanya puas banget bisa ikut bantu begini."
"Ini pahalanya gede, Do!" seru Bimo, sahabatnya yang juga ikut membantu. "Ini bagian dari syukur kita atas nikmat yang Allah kasih. Kita bisa ikut merayakan Idul Adha dengan kurban."
"Betul, Bro," sahut Rizal, yang ikut menguliti daging. "Gue jadi inget omongan lo waktu itu, kalau kurban itu kayak nyembelih ego kita. Nggak cuma hewan yang disembelih, tapi juga sifat-sifat buruk dalam diri."
Aldo mengangguk. "Itu dia, Zal. Ini bukan cuma ritual musiman, tapi pelajaran hidup. Belajar ikhlas, belajar berbagi, belajar peduli sama sesama."
Daging-daging segar mulai diangkut ke pos pengolahan. Ibu-ibu dengan sigap memilah, memotong, dan menimbang. Aroma sate mulai tercium dari beberapa rumah yang sudah tak sabar mengolah bagian kurban mereka.
Bu Ida, koordinator ibu-ibu, memantau. "Neng Lilis, ini yang bagian 0,5 kg jangan terlalu banyak lemaknya ya. Pastikan semua dapat bagian yang merata dan berkualitas."
Lilis, salah satu anggota karang taruni, tersenyum. "Siap, Bu! Ini juga saya cek daftar mustahiqnya, biar nggak ada yang terlewat."
Pak RT 05, Pak Suryo, datang membawa daftar nama. "Faiz, ini data mustahiq dari RT 05. Ada 120 kepala keluarga. Sudah fix dengan data yang kemarin."
"Siap, Pak RT!" Faiz mengangguk. "Kita sudah siapkan kuponnya. Nanti distribusi dimulai setelah Dzuhur, biar semua dagingnya sudah terpotong rapi."
Distribusi daging kurban dimulai. Para mustahiq, mulai dari lansia, janda, hingga fakir miskin, datang membawa kupon. Wajah-wajah mereka memancarkan kebahagiaan.
Seorang nenek tua, Mbah Sumi, menerima bungkusan daging dengan tangan gemetar. "Alhamdulillah... matur nuhun, Nak. Semoga jadi berkah bagi panitia dan yang berkurban."
Faiz tersenyum, "Sama-sama, Mbah. Semoga berkah juga untuk Mbah dan keluarga."
Di sela-sela distribusi, Bimo dan Rizal menyempatkan diri mengobrol dengan Aldo.
"Lihat, Do, senyumnya Mbah Sumi. Rasanya tuh beda ya, ngeliat orang bahagia karena apa yang kita kasih," kata Bimo.
"Itulah indahnya berbagi, Bro," sahut Aldo. "Ini bukan cuma daging, tapi harapan. Ini bukan cuma uang, tapi keikhlasan. Dan itu semua datang dari berkah kurban."
Rizal mengangguk. "Jadi makin ngerasa, kalau nikmat yang Allah kasih itu harus disalurkan ke yang berhak. Nggak boleh cuma dinikmati sendiri."
Hari Tasyrik pun tiba. Suasana penyembelihan sudah berakhir, namun semangat kebersamaan masih terasa. Panitia mengadakan evaluasi kecil di posko.
Pak RT Dedi tersenyum puas. "Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tidak ada insiden, daging terdistribusi semua."
"Berkat kerjasama semua pihak, Pak RT," kata Faiz. "Dari donatur, panitia, ibu-ibu, sampai pemuda karang taruna. Semua bergerak dengan niat ikhlas."
Aldo menimpali, "Dan ini bukan cuma soal jumlah daging atau berapa mustahiq yang dapat, tapi soal spiritnya. Spirit untuk peduli, untuk berbagi, untuk mengingat Allah di setiap langkah."
"Betul sekali, Do," ujar Bu Ida. "Qurban itu bukan cuma sekali setahun, tapi ajarannya harus kita bawa terus dalam kehidupan sehari-hari. Berbagi itu bisa dalam banyak bentuk, bukan cuma daging."
Rizal, yang ikut rapat, menyahut, "Gue jadi kepikiran, Pak RT, Bu Ida. Bagaimana kalau setelah ini kita juga bisa bikin program sosial rutin di RT 04 dan RT 05? Nggak harus besar-besaran, mungkin kayak sedekah jumat, atau pengajian rutin yang ada santunan untuk yatim."
"Nah, ide bagus itu, Zal!" seru Bimo. "Kita bisa manfaatin grup WhatsApp yang sudah ada buat campaign atau koordinasi."
Pak RT Suryo mengangguk-angguk. "Itu namanya kolaborasi pemikiran yang luar biasa. Dari momen kurban ini, kita bisa menumbuhkan kepedulian yang lebih luas."
Faiz tersenyum. "Ini kan juga bagian dari menjaga nilai-nilai takwa, Pak, Bu. Takwa itu kan bukan cuma di masjid atau di hari raya. Tapi juga di setiap gerak-gerik kita, di setiap kepedulian kita sama sesama."
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat Dayeuhkolot. Gaung takbir telah digantikan oleh obrolan dan tawa. Namun, semangat kurban yang mengalir di setiap hati warga RT 04 dan RT 05 RW 01 Sukapura tidak akan pernah padam. Mereka tahu, ini bukan hanya akhir dari hari Tasyrik, tetapi awal dari kebaikan-kebaikan baru yang akan terus tumbuh dari benih takwa dan kebersamaan.
Sukapura, 13 Juni 2025
Komentar
Posting Komentar