Pasanggrahan Pancarasa: Filosofi Panca Indra dalam Harmoni Kehidupan

Pasanggrahan Pancarasa: Filosofi Panca Indra dalam Harmoni Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, kawasan halaman Gedung Sate yang baru ditata kini menyandang nama baru: Pasanggrahan Pancarasa. Nama yang diresmikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada 17 Agustus 2026 ini bukan sekadar perubahan atribut, melainkan sebuah pengingat filosofis tentang bagaimana manusia semestinya menjalani kehidupan.

Memaknai "Pancarasa"

Secara harfiah, "Pancarasa" terdiri dari dua kata: panca (lima) dan rasa. Namun dalam pemaknaan yang diberikan, istilah ini merujuk pada lima indra manusia yang harus difungsikan secara sadar dan ikhlas.

Dedi Mulyadi merinci kelima "rasa" tersebut sebagai berikut:

· Mata — harus melihat
· Telinga — harus mendengar
· Hidung — harus menghirup/menghisap
· Lidah — harus berucap
· Hati — harus ikhlas

"Pancarasa artinya kita punya lima rasa: punya mata harus melihat, punya telinga mendengar, hidung menghisap, lidah berucap, dan punya hati harus ikhlas," ujar Dedi Mulyadi dalam peresmiannya.

Kedalaman Filosofis: Antara Fungsi dan Kesadaran

Filosofi Pancarasa tidak berhenti pada pengakuan bahwa manusia memiliki panca indra. Makna yang lebih dalam terletak pada kata "harus" yang melekat pada setiap fungsi indra tersebut. Ini bukan sekadar deskripsi biologis, melainkan seruan etis: setiap indra memiliki tanggung jawab fungsional yang tidak boleh diabaikan.

Mata tidak sekadar "bisa" melihat, tetapi "harus" melihat — artinya manusia dituntut untuk mengamati, memperhatikan, dan menyadari realitas di sekitarnya. Telinga harus mendengar — mendengarkan sesama, mendengar suara kebenaran, mendengar panggilan nurani. Hidung harus menghirup — menyerap kehidupan, menyadari keberadaan. Lidah harus berucap — menyatakan kebenaran, menyampaikan kebaikan, tidak menjadi bisu di tengah ketidakadilan.

Namun puncak dari seluruh filosofi ini adalah hati yang ikhlas. Tanpa keikhlasan, seluruh fungsi indra kehilangan maknanya. Mata yang melihat tanpa keikhlasan akan menjadi mata yang iri. Telinga yang mendengar tanpa keikhlasan akan menjadi telinga yang memfitnah. Lidah yang berucap tanpa keikhlasan akan menjadi lidah yang dusta. Hati, dalam tradisi Nusantara, bukan sekadar organ fisik melainkan pusat kesadaran moral dan spiritual.

Pasanggrahan: Ruang Pertemuan Fisik dan Batin

Kata "Pasanggrahan" dalam nama kawasan ini berarti tempat berkumpul. Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa pada masa lalu, pasanggrahan adalah tempat orang-orang dari berbagai kerajaan berkumpul, datang dengan menunggang kuda.

Dengan menggabungkan "Pasanggrahan" dan "Pancarasa", ruang publik ini tidak hanya menjadi tempat pertemuan fisik, tetapi juga tempat pertemuan batin — ruang di mana setiap orang diingatkan untuk menggunakan seluruh indranya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ini adalah ruang di mana komunitas tidak sekadar berjumpa secara fisik, tetapi juga saling melihat, mendengar, dan menyapa dengan hati yang ikhlas.

Pancarasa dalam Konteks Filosofi Nusantara

Konsep Pancarasa memiliki benang merah dengan berbagai tradisi filosofis Nusantara. Dalam ajaran kepercayaan tradisional, dikenal istilah Pancarasa Sejati yang merujuk pada bersatunya lima rasa dalam diri manusia. Sementara dalam tradisi Sunda, dikenal filosofi Cing caringcing pageuh kancing yang mengajarkan tentang keseimbangan dan kesatuan.

Yang menarik, Dedi Mulyadi sendiri dikenal sebagai pemimpin yang kerap bertindak berdasarkan prinsip dan filosofi mendalam. Penamaan Pasanggrahan Pancarasa sejalan dengan gaya kepemimpinannya yang mengedepankan makna simbolik dan nilai-nilai filosofis dalam setiap kebijakan.

Pesan untuk Masyarakat

Lebih dari sekadar nama, peresmian Pasanggrahan Pancarasa dibarengi dengan pesan tegas tentang pembenahan mentalitas. Dedi Mulyadi menekankan bahwa kemajuan tidak hanya mengandalkan birokrasi, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan disiplin masyarakat. "Yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki," tegasnya.

Filosofi Pancarasa dengan demikian menjadi cermin bagi setiap individu — apakah kita sudah menggunakan mata untuk melihat kebenaran? Telinga untuk mendengar keluhan sesama? Lidah untuk menyuarakan keadilan? Dan yang terpenting, apakah hati kita sudah ikhlas dalam menjalani semua itu?

Penutup

Pasanggrahan Pancarasa bukan sekadar ruang terbuka hijau baru di Bandung. Ia adalah monumen filosofis yang setiap hari mengingatkan siapa pun yang melintas: bahwa menjadi manusia seutuhnya berarti menggunakan panca indra bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk hidup dengan kesadaran, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Di tengah gempuran informasi dan distraksi modern, filosofi Pancarasa mengajak kita untuk berhenti sejenak, melihat dengan sungguh-sungguh, mendengar dengan saksama, dan bertindak dengan hati yang ikhlas. Sebab pada akhirnya, ruang publik yang paling penting untuk ditata bukanlah halaman Gedung Sate semata, melainkan ruang batin setiap individu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen dalam Dialog: Teka-teki Midas dan Kebenaran yang Tersembunyi

Untuk Yang Telahir Di Bulan Desember

Selamat Ulang Tahun, Lahir September